• zena

    it will describe you about the condition of primary school in gili meno.....

  • calender

    April 2014
    M T W T F S S
    « Jan    
     123456
    78910111213
    14151617181920
    21222324252627
    282930  
  • Flickr Photos

    Happy Easter! Explored (#1 on April 18)

    Ortigia

    Mirror City (Explore #2)

    More Photos

salahuddin al-ayyubi

Salahuddin Ayyubi atau Saladin atau Salah ad-Din (Bahasa Arab: صلاح الدين الأيوبي, Kurdi: صلاح الدین ایوبی) (Sho-lah-huud-din al-ay-yu-bi) (c. 11384 Maret 1193) adalah seorang jendral dan pejuang muslim Kurdi dari Tikrit (daerah utara Irak saat ini). Ia mendirikan Dinasti Ayyubiyah di Mesir, Suriah, sebagian Yaman, Irak, Mekkah Hejaz dan Diyar Bakr. Salahuddin terkenal di dunia Muslim dan Kristen karena kepemimpinan, kekuatan militer, dan sifatnya yang ksatria dan pengampun pada saat ia berperang melawan tentara salib. Sultan Salahuddin Al Ayyubi juga adalah seorang ulama. Ia memberikan catatan kaki dan berbagai macam penjelasan dalam kitab hadits Abu Dawud

Daftar isi

[sembunyikan]

//

[sunting] Latar belakang

Shalahuddin Al-Ayyubi berasal dari bangsa Kurdi[1] . Ayahnya Najmuddin Ayyub dan pamannya Asaduddin Syirkuh hijrah (migrasi) meninggalkan kampung halamannya dekat Danau Fan dan pindah ke daerah Tikrit (Irak). Shalahuddin lahir di benteng Tikrit, Irak tahun 532 H/1137 M, ketika ayahnya menjadi penguasa Seljuk di Tikrit. Saat itu, baik ayah maupun pamannya mengabdi kepada Imaduddin Zanky, gubernur Seljuk untuk kota Mousul, Irak. Ketika Imaduddin berhasil merebut wilayah Balbek, Lebanon tahun 534 H/1139 M, Najmuddin Ayyub (ayah Shalahuddin) diangkat menjadi gubernur Balbek dan menjadi pembantu dekat Raja Suriah Nuruddin Mahmud. Selama di Balbek inilah, Shalahuddin mengisi masa mudanya dengan menekuni teknik perang, strategi, maupun politik. Setelah itu, Shalahuddin melanjutkan pendidikannya di Damaskus untuk mempelajari teologi Sunni selama sepuluh tahun, dalam lingkungan istana Nuruddin. Pada tahun 1169, Shalahudin diangkat menjadi seorang wazir (konselor).

Di sana, dia mewarisi peranan sulit mempertahankan Mesir melawan penyerbuan dari Kerajaan Latin Jerusalem di bawah pimpinan Amalrik I. Posisi ia awalnya menegangkan. Tidak ada seorangpun menyangka dia bisa bertahan lama di Mesir yang pada saat itu banyak mengalami perubahan pemerintahan di beberapa tahun belakangan oleh karena silsilah panjang anak khalifah mendapat perlawanan dari wazirnya. Sebagai pemimpin dari prajurit asing Syria, dia juga tidak memiliki kontrol dari Prajurit Shiah Mesir, yang dipimpin oleh seseorang yang tidak diketahui atau seorang Khalifah yang lemah bernama Al-Adid. Ketika sang Khalifah meninggal bulan September 1171, Saladin mendapat pengumuman Imam dengan nama Al-Mustadi, kaum Sunni, dan yang paling penting, Abbasid Khalifah di Baghdad, ketika upacara sebelum Shalat Jumat, dan kekuatan kewenangan dengan mudah memecat garis keturunan lama. Sekarang Saladin menguasai Mesir, tapi secara resmi bertindak sebagai wakil dari Nuruddin, yang sesuai dengan adat kebiasaan mengenal Khalifah dari Abbasid. Saladin merevitalisasi perekonomian Mesir, mengorganisir ulang kekuatan militer, dan mengikuti nasihat ayahnya, menghindari konflik apapun dengan Nuruddin, tuannya yang resmi, sesudah dia menjadi pemimpin asli Mesir. Dia menunggu sampai kematian Nuruddin sebelum memulai beberapa tindakan militer yang serius: Pertama melawan wilayah Muslim yang lebih kecil, lalu mengarahkan mereka melawan para prajurit salib.

Timur Tengah (1190 M.). Wilayah kekuasaan Shalahuddin (warna merah); Wilayah yang direbut kembali dari pasukan salib 1187-1189 (warna pink). Warna hijau terang menandakan wilayah pasukan salib yang masih bertahan sampai meninggalnya Shalahuddin

Dengan kematian Nuruddin (1174) dia menerima gelar Sultan di Mesir. Disana dia memproklamasikan kemerdekaan dari kaum Seljuk, dan dia terbukti sebagai penemu dari dinasti Ayyubid dan mengembalikan ajaran Sunni ke Mesir. Dia memperlebar wilayah dia ke sebelah barat di maghreb, dan ketika paman dia pergi ke Nil untuk mendamaikan beberapa pemberontakan dari bekas pendukung Fatimid, dia lalu melanjutkan ke Laut Merah untuk menaklukan Yaman. Dia juga disebut Waliullah yang artinya teman Allah bagi kaum muslim Sunni.

Aun 559-564 H/ 1164-1168 M. Sejak itu Asaduddin, pamannya diangkat menjadi Perdana Menteri Khilafah Fathimiyah. Setelah pamnnya meninggal, jabatan Perdana Menteri dipercayakan Khalifah kepada Shalahuddin Al-Ayyubi.

Shalahuddin Al-Ayyubi berhasil mematahkan serangan Tentara Salib dan pasukan Romawi Bizantium yang melancarkan Perang Salib kedua terhadap Mesir. Sultan Nuruddin memerintahkan Shalahuddin mengambil kekuasaan dari tangan Khilafah Fathimiyah dan mengembalikan kepada Khilafah Abbasiyah di Baghdad mulai tahun 567 H/1171 M (September). Setelah Khalifah Al-’Adid, khalifah Fathimiyah terakhir meninggal maka kekuasaan sepenuhnya di tangan Shalahuddin Al-Ayyubi.

Sultan Nuruddin meninggal tahun 659 H/1174 M, Damaskus diserahkan kepada puteranya yang masih kecil Sultan Salih Ismail didampingi seorang wali. Dibawah seorang wali terjadi perebutan kekuasaan diantara putera-putera Nuruddin dan wilayah kekuasaan Nurruddin menjadi terpecah-pecah. Shalahuddin Al-Ayyubi pergi ke Damaskus untuk membereskan keadaan, tetapi ia mendapat perlawanan dari pengikut Nuruddin yang tidak menginginkan persatuan. Akhirnya Shalahuddin Al-Ayyubi melawannya dan menyatakan diri sebagai raja untuk wilayah Mesir dan Syam pada tahun 571 H/1176 M dan berhasil memperluas wilayahnya hingga Mousul, Irak bagian utara.

[sunting] Naik ke kekuasaan

Di kemudian hari Saladin menjadi wazir pada 1169, dan menerima tugas sulit mempertahankan Mesir dari serangan Raja Latin Yerusalem, khususnya Amalric I. Kedudukannya cukup sulit pada awalnya, sedikit orang yang beranggapan ia akan berada cukup lama di Mesir mengingat sebelumnya telah banyak terjadi pergantian pergantian kekuasaan dalam beberapa tahun terakhir disebabkan bentrok yang terjadi antar anak-anak Kalifah untuk posisi wazir. Sebagai pemimpin dari pasukan asing Suriah, dia juga tidak memiliki kekuasaan atas pasukan Syi’ah Mesir yang masih berada di bawah Khalifah yang lemah, Al-Adid.

psikologi

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Orang pada umumnya tidak merasakan bahwa menggunakan bahasa merupakan keterampilan yang luar biasa rumitnya.penggunaan bahasa terasa lumrah karena memang tidak diajari oleh siapapun sejak umur 1-2 tahun seorang bayi mulai mengeluarkan bentuk-bentuk bahasa yang telah dapat kita identifikasi sebagai kata .ujaran satu kata ini tumbuh menjadi ujaran dua kata dan akhirnya menjadi kalimat yang komplek menjelang umur 4-5 tahun.

Sebagai alat interaksi verbal, bahasa dapat dikaji secara internal maupun secara eksternal.secara internal kajian dilakukan terhadap struktur internal bahasa itu, mulai dari struktur fonologi, morfologi, sintaksis, sampai struktur wacana.kajian eksternal berkaitan dengan hubungan bahasa itu dengan faktor-faktor atau hal-hal yang ada diluar bahasa seperti faktor social, psikologis, etnis, seni dan sebagainya.

Kajian eksternal bahasa melahirkan disiplin baru yang merupakan kajian dua bidang ilmu atau lebih. Contoh sosiolinguistik merupakan kajian antara sosiologi dan linguistik.dewasa ini tuntutan dalam kehidupan telah menyebabkan perlunya dilakukan kajian bersama antara dua disiplin imu atau lebih.

B. Rumusan Masalah.

  1. Bagaimana gejala-gejala psikolinguistik?
  2. Bagaimana implikasi babbling terhadap membaca awal permulaan?
  3. Bagaimana anak memperoleh bahasa?
  4. Bagaimana hubungan antara psikolinguistik dengan pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah dasar?

C. Tujuan

  1. Untuk mengetahui gejala-gejala psikolinguistik
  2. Untuk Mengetahui implikasi babbling terhadap membaca awal permulaan.
  3. Untuk mengetahui bagaimana anak memperoleh bahasa.
  4. Untuk mengetahui hubungan antara psikolinguistik dengan pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah dasar.

BAB II

PEMBAHASAN

A. Gejala-gejala psikolinguistik.

1. Pengetian Psikolinguistik.

Secara etimologi kata pskilogi berasal dari dari bahasa Yunani kuno psyche dan logos.kata psyche berarti “jiwa, roh, atau sukma” sedangkan kata logos berati ilmu. Jadi psikologi secara harfiah berarti “ilmu jiwa” atau ilmu yang objek kajiannya adalah jiwa.dalam perkembangan lebih lanjut, psikologi lebih membahas atau mengkaji sisi-sisi manusia dari segi yang bias diamati. Misalnya seperti orang yang sedih akan berlaku murung, dan orang yang gembira nampak dari gerak geriknya yang riang atau dari wajahnya yang berbunar-binar.

Sedangklan linguistik diartikan sebagai ilmu bahasa atau ilmu yang mengambil bahasa sebagai kajian ilmunya, yang merupakan fenomena yang hadir dalam segala aktivitas kehidupan manusia.maka linguistik itu pun menjadi sangat luas bidang kajiannya.

Dalam kaitannya dengan psikologi linguistik lazim diartikan sebagai ilmu yang mempelajari hakekat bahasa, struktur bahasa, bagaimana bahasa itu diperoleh, bagaimana itu bekerja, dan bagaimana bahasa itu berkembang. Dalam konsep ini tampak bahwa yang namanya psikolinguistik dianggap sebagai cabang dari linguistik, sedangkan linguistik itu sendiri dianggap cabang dari psikologi.

Secara etimilogi psikolinguistik berasal dari kata psikologi dan kata linguistik, yakni dua bidang ilmu yang berbeda dengan prosedur dan metode yang berlainan. Meskipun cara dan tujuan nya berbeda, tetapi banyak juga bagian –bagian objek nya yang dikaji dengan cara yang sama dan dengan tujuan yang sama.

Psikolinguistik mencoba menguraikan proses-proses psikologi yang berlangsung jika seseorang mengucapkan kalimat-kalimat yang di dengarnya pada waktu berkomunikasi (Slobin ,1974 :Slama Cazahv, 1973 ) maka secara teoritis tujuan utama psikolinguistik adalah mencari satu teori bahasa yang secara linguistik bisa diterima dan secara psikologis dapat menerangkan hakekat bahasa dan pemerolehannya.

Ingram (1989) membagi perkembangan studi tentang bahasa menjadi 3 tahap : periode buku harian, periode sample besar, dan peride kajian longitudinal.

Karya Leopold yang monumental di tulis tahun 1939 padahal datanya diambil dari buku harian yang menurut Iagram berakhir pada tahun 1962.

2. Sejarah Psikolinguistik

Psikolinguistik, merupakan ilmu hibrida, yaitu ilmu yang merupakan gabungan dari dua ilmu, yaitu Psikologi dan linguistik. Benih ilmu ini suadah muncul pada awal abad ke 20, Wilhem Wundt menyatakan bahwa bahasa dapat dengan prinsip-pinsip psikologi. Pada waktu itu bahasa mulai mengalami perubahan dari sifatnya yang eksetik dan cultural ke suatu pendekatan yang “ilmiah”.

Sementara itu di benua Amerika kaitan antara bahasa denghan ilmu jiwa juga mulai tumbuh.. perkembangan ini dapat dibagi menjadi empat tahap :

a. Tahap Formatif

b. Tahap Linguistik

c. Tahap Kognitif

d. Tahap teori psikolinguistik

3. Gejala-gejala psikolinguistik

a.Gangguan Berbicara.

Berbicara merupakan aktifitas motorik yang mengandung modalitas psikis. Oleh karena itu, gangguan berbicara ini dapat dua kategori, pertama, gangguan mekanisme berbicara yang berimplikasi pada gangguan organik

Dan kedua gangguan berbicara psikogenik.

1). Gangguan Mekanisme Berbicara.

Mekanisme berbicara adalah suatu proses produksi ucapan (percakapan) oleh kegiatan terpadu dari pita suara , otot –otot yang membentuk rongga mulut serta kerongkongan dan paru-paru. Maka gangguan berbicara berdasarkan mekanisme nya ini dapat dirinci menjadi gangguan berbicara disebabkan kelainan pada paru-paru (pulmonal) , pada pita suara(laringal) pada lidah (lingual), dan pada rongga mulut dan keronggkongan(resonantal)

a). Gangguan akibar faktor pulmonal.

Gangguan ini dialami oleh para penderita paru-paru. Para penderita penyakit paru-paru ini kekuatan bernafasnya sangat kurang sehingga bicaranya diwarnai oleh nada yang monoton ,volume suara kecil, dan terputus-putus.

b). Gangguan Akibat Factor Laringal.

Gangguan pada pita suara sehingga suara menjadi serak atau hilang sama sekali..

c). Gangguan Akibat Faktor Lingual.

Lidah yang terluka akan terasa perih jika di gerakan.untuk mencegah timbulnya rasa pedih aktifitas lidah di kurangi. Dalam keadaan ini makan pengucapan sejumlah fonem menjadi tidak sempurna.

d). gangguan akibat factor resonasi

Menyebabkan suara yang dihasilkan menjadi bersengau.penderita penyakiy miastenia gravis sering kali dekenali karena kesengauan ini.

2). Gangguan Akibat Multifaktorial.

Akibat gangguan multifaktorial atau berbagai factor yang biasa menyebabkan terjadinya gangguan berbicara. Antara lain adalah berikut ini.

a). Bicara serampangan.

Berbicara dengan cepat dengan artikulasi yang rusak ,ditambah dengan menelan sejumlah suku kata sehingga ucapan sukar di pahami.

b). Berbicara Profulsif.

Biasanya dialami oleh penderita penyakit Parkinson atau kerusakan pada otak yang menyebabkan otot menjadi gemetar, kaku, dan lemah.

c).Berbicara mutis.

Penderita mutisme ini tidak dapat berbicara sebagian mungkin dianggap membisu.penederita mutisme ini tidak hanya berkomunikasi secara verbal, tetapi juga tidak dapat berkomunikasi secara visual maupun isyarat.seperti gerak dan sebagainya

3). Gangguan Psikogenik.

a). berbicara manja.

b).berbicara kemayu

c).berbicara gagap

d). berbicara latah.

b. Gangguan berbahasa

Berbahasa berarti berkomunikasi dengan menggunakan suatu bahasa. Anak-anak yang lahir dengan alat artikulasi dan auditori yang normal akan dapat mendengar kata-kata dengan telinganyadengan baik dan juga akan dapat menirukan kata-kata itu.

Untuk dapat berbahasa diperlukan kemampuan mengeluarkan kata-kata. Ini berarti, daerah Broca (guadang tempat menyimpan sandi ekspresi kata-kata dalam otak) harus berfungsi dengan baik. Kerusakan pada daerah tersebut dan sekitarnya menyebabkan terjadinya gangguan bahasa yang disebut afasia.

c. Gangguan Berfikir

Gnagguan ekspresi verbal sebagai akibat dari gangguan pikiran dapat berupa :

1). Pikun, yaitu suatu penurunan daya inagt dan daya pikirlainnya yang dari hari ke hari semakin buruk.

2). Sisofernik, yaitu gangguan berbahasa akibat gangguan berpikir.

3). Defresif, orang yang tertekan jiwanya memproyeksikan penderitaanya pada gaya bahasa da makana curah verbalnya. Volume curah verbalnya lemah lembut dan kelancarannya terputus-putus oleh interval yang cukup panjang.

d. Gangguan Lingkungan Sosial

Yang dimaksud denganakibat factor lingkungan adalah terasingnya seorang anak manusia, yang aspek biologis bahasanya normal dari lingkungan kehidupan manusia. Keterasinagan dapat disebabkan karena diperlakukan dengan sengaja (sebagai eksperimen) bias juga Karena hidup bukan dalam alam lingkungan manusia, melainkan dipelihara oleh binatang, seperti kasus Kamala dan Mougli.

Tanpa mendengar suara bahasa oarng bahasa di sekelilingtidak mungkin kemampuan berbahasa dapat berkembang. Jadi, anak terasing Karen tidak da orang ayng mengajak atau diajak berbicara, tidak mungkin dapat berbahasa.

4. Universal Bahasa.

Karena anak dapat bahasa apapun yang disajikan kepadanya, pastilah ada sesuatu yang sifat nya universal pada bahasa. pelopor universal bahasa seperti Greenberg (1963) meneliti banyak bahasa diteliti dan dari bahasa itu dia sari-sarikan fitur-fitur mana yang terdapat pada samua bahasa . dengan demikian , konsep universal bahasa bukanlah sesuatu yang mutlak tetapi relative.

Berdasarkan gradasi inilah Comrie (1989/81 : 15-23) membagi universal bahasa menjadi 2 kelompok besar yang masing-masing mempunyai sub-kelompok seperti pada bagan berikut ini :

Non Implikasi

Absolut

Implikasi

Universal

Non Implikasional

Tendensus

Implikasional

Pada kelompok universal absolut non implikasional tidak terdapat pengecualian. Misalnya, semua bahasa memiliki bunyi vokal a,i,u. sedangkan pada kelompok absolut yang implikasional dikatakan bahwa bila bahasa mempunyai X maka bahasa itu mempunyai Y.misalnya, jika bahasa mempunyai konsonan hambat velar.K maka bahasa itu pasti mempunyai konsonan hambat bilabial, B

Pada kelompok universal tendensius non-implikasional trdapat kecenderungan besar terhadap bahasa untuk memiliki sesuatu tertentu. Misalnya, hamper semua bahasa memiliki konsonan nasal.pada kelompok universal tendensius implikasi dikatakan bahwa suatu bahasa memiliki X maka kemungkinan besarnya adalah bahwa bahasa itu juga memiliki Y.misalnya bahasa memiliki SOV(subjek-Pos-Posisi).

Konsep universal diatas berbeda dengan chamsky yang tidak memakai banyak bahasa untuk konsep universalnya. Darsar pandangan dia adalah bila suatu intensitas mengandung unsur –unsur hakiki tertentu.maka unsure-unsur itu pasti ada pada entitas itu simana pun juga.

a. Kontroversi Antara Nurture Dengan Nature.

Manusia dimanapun pasti dapat menguasai bahasa, atau memperoleh bahasa asalkan dia tumbuh di dalam suatu masyarakat.proses pemerolehan ini merupakan hal yang kontroversial diantara para ahli bahasa.mereka mempermasalahkan apakah pemerolehan bahasa ini bersifat nurture atau nature.mereka yang menganut aliran behaviorisme mengatakan pemerolehan ini bersifat nurture, yakni pemerolehan itu di pengaruhi oleh lingkungannya.

Pelopor modern dalam pandangan ini adalah seorang psikolog dari universitas Harvard, Skiner. Dalam verbal behaviour(1957) skinner menyimpulkan bahwa pemerolehan pengetahuan , termasuk pengetahuan pemakaian bahasa, berdasarkan adanya stimulus, yang kemudian diikuti oleh respon. Menurut Skiner bahasa adalah seperangkat kebiaasaan.kebiasaan hanya diperoleh dengan pelatihan yang bertubi-tubi.pandangan inilah yang menjadi dasar mengapa latihan tubian (drills) merupakan bagian yang sangat penting dalam pengajaran bahasa asing pada metode seperti Oral Aproach atau Audiolingual Approach.

Pada tahun 1959 Chomsky menulis resensi yang secara tajam menyerang teori Skiner. Pada dasarnya Chomsky berpandangan bahwa pemerolehan bahasa tidak didasarkan pada nurture tetapi pada nature.anak memperoleh kamampuan untuk berbahasa seperti dia memperoleh kemampuan untuk berdiri dan berjalan (Tabula Rasa), tetapi dia telah dibekali alat berupa piranti pemerolehan bahasa. Piranti ini bersifat universal, artinya anak manapun pasti memiliki piranti ini. Ini terbukti dari adanya persamaan dari satu anak dengan anak yang lainnya dalam proses pemerolehan bahasa mereka.

Sedangkan nurture , yakni masukan yang berupa bahasa yang akan menentukan bahasa mana yang akan diperoleh anak, teati proses nya sendiri berupa kodrat (innate) dan inner-directed. Oleh karena itu, bahasa bukan suatu kebiasaan melainkan suetu system yang diatur oleh seperangkat peraturan (rule-governed). Bahasa juga kreatif dan memiliki ketergantungan struktur.

Kontroversi antara nurture dan nature ini masih berlanjut, meskipun sebagian besar linguis kini percaya bahwa pandangan Chomsky lah yang mendekati kebenaran. Namun demikian, factor nurture tidak dapat dikesampingkan begitu saja. Banyak contoh peristiwa yang menggambarkan nurture Vs nature, misalnya karya fiksi Edgar Rice burogh,Tarzan, sebenarnya bukti khayalan atau adanay interaksi antara nurture dengan nature.pada tahun 1800 di Prancis, ditemukan anak laki-laki bermur 11-12 tahun yang sering menyusup desa dan hutan dipelihara dan di didik oleh seprang tuli ternyata gagal intuk berbicara seperti manusia pada umunya. Peristiwa nurture Vs nature juga terjadi di California sebagai objek penelitian seorang anak bernama Ginie yang disekap orang tuanya dikamar kecil selama 13 tahun. Dia diberi makan tapi tidak pernah diajak bicara, setelah di temukan dan kemudian dilatih berbahasa selama 8 tahun ternyata gagal dan tetap saja tidak dapat berbahasa seperti manusia lainnya.

Dari gambaran di atas tampak bahwa baik nurture maupun nature untuk memperoleh bahasa. Nature diperlukan karena tanpa bekal kodrati mahluk tidak mungkin dapat berbahasa.Nurture juga di perlukan karena tanpa adanya infut dari alam sekitar bekal yang kodrati itu tidak akan terwujud.

5. Universal Dalam Perolehan Bahasa.

Dari berbagai macam universal serta proses pemerolehan bahasa seperti di gambarkan diatas tampak bahwa pemerolehan bahasa seorang anak terkait erat dengan konsep Universal.

Komponen fonologi yang lebih banyak terkait dengan neurologi manusia, nampaknya yang paling universal. Sementara itu, komponen sintaksis dan sematik memiliki kadar universal yang lebih rendah.

a. Universal Pada Komponen Fonologi.

Dalam masalah kaitannya antara konsep universal dengan perolehan Fonologi , ahli yang pandangan nya sampai saat ini belum di sanggah adalah Roman Jakobson. Menurut dia, pemerolehan bunyi berjalan selaras dengan kodrat bunyi itu sendiri. Bunyi pertama yang keluar saat anak pertama berbicara adalah kontras antara konsonan dan vocal. Dalam hal vocal hanya berbunyi a,i,u yang akan keluar lebih dulu diantara ketiga bunyi ini adalah (a).hal ini dikarenakan ketiga bunyi ini adalah system vocal minimal .bahasa manapun di dunia ini pasti memiliki minimakan tiga vocal ini (Jacobson 1971: 8-20).berupa unsure-unsur atau elemen yang membentuk bahasa contohnya : nomina, verbal, adjektiva.sedangkan universal formal berkaitan dengan cara bagaimana universal subtansif itu diatur. Pengaturan elemen –elemen ini berbeda dari suatu bahasa ke bahasa lainnya.

Menurut Chomsky (1999 :34) manusia mempunyai Fakulties Of The Mind. Yakni semacam kapling-kapling intelektual dalam benak/otaknya. Kpaling tersebut oleh Chamsky dinamakan Leangue Acquisition Device (LAD), yang telah diterjemahkan menjadi Piranti Pemerolehan Bahasa (PPB). (Dardjowidjojo, 2000:19) PBB menerima masukan dari lingkungan disekitarnya dalam bentuk kalimat yang tidak semuanya apik (well- formed). Namun, PPB ini mempunyai mekanisme untuk memilah dan menyaring sehingga hanya yang apik lah yang akhirnya diambil.jadi, dalam PPB ada semacam “pembuat hipotese” yang menyarikan korpus yang masuk. Selain itu juga mempunyai mekanisme lain yang menilai dari sekian aturan yang ada mana yang paling baik artinya mana yang paling efisien dan paling ekonomis.

Aitchison (1998 :102) menggambarkan LAD sebagai berikut.

Hipotesis Maker

Evaluation Procedur

Linguistic Universal

b. Universal pada Komponen Sintatik dan Semantik

Berbeda dengan komponen fonologi, komponen sintatik dan semantic memiliki derajat ke universalan yang lebih rendah.pada komponen fonologi, urutan pemunculan bunyi terkait langsung dengan dengan pertumbuhan biologi dan neurology anak. Pada komponen sintaktik dan semantik kaitannya tidak langsung.

Namun demikian, pada komponen sintetik ada pola-pola kalimat yang diperoleh secara universal. Komponen sematik lebih labil karena macam apa yang dikuasai dan berapa jumlahnya sangat tergantung pada keadaan masing-masing anak. Pada anak keluarga petani di desa, kata cangkul atau sabit mungkin akan telah d kuasai awal sedangkan computer atau crayon belakangan, atau malah tidak sama sekali. Jumlah kata yang akan di kuasai mungkin tidak akan banyak seperti anak kota di keluarga terdidik dan mampu membelikan buku gambar dan buku-buku lain untuk anaknya.

Namun demikian, ada pula urutan universal yang umumnya diikuti anak. Prinsip yang dinamakan sini dan kini (here and now) tampaknya universal. Artinya, dimanapun juga kosakata dari objek yang ada di sekelilingnya (=sini) dan yang saat itu ada (=kini).

6. Rerata Panjang Ujaran

Untuk mengukur perkembangan sistaksis anak, banyak di pakai temuan Brown (1973) yang di kenal dengan nama Mean Length of Utterance, MLU, yang telah d terjemahkan menjadi Rerata Panjang Ujaran, RPU (Dardjowidjojo 2000: 40).

7. Bahasa Ibu Versus Bahasa Sang Ibu

Untuk menghindari kesalah-fahaman, perlu di bedakan istilah bahasa ibu dari bahasa sang ibu. Bahasa ibu adalah bahasa pertama yang di kuasai atau di peroreh anak. Bahasa ibu adalah padanan untuk istilah Inggris native language.

Bahasa sang ibu adalah bahasa yang di pakai oleh orang dewasa pada waktu bicara dengan anak yang sedang dalam proses memperoreh bahasa ibunya.

Bahasa sang ibu mempunyai cirri-ciri khusus: (a) kalimatnya umumnya pendek-pendek, (b) nada suaranya biasanya tinggi, (c) intonasinya agak berlebihan, (d) laju ujaran agak lambat, (e) banyak redundansi (pengulangan), dan (f) banyak memakai kata sapaan (Moskowits 1981; Pine 1994: 15; Barton dan Tomasello 1994: 109).

8. Komprehensi Dan Produksi

Manusia, baik anak maupun dewasa, mempunyai dua tingkat kemampuan yang berbeda dalam berbahasa. Orang dewasa, kita menyadari jumlah kosakata yang kita pakai secara aktif adalah lebih rendah daripada kata-kata yang dapat kita mengerti. Dimanapun juga kemampuan anak untuk memahami apa yang di katakana orang jauh lebih cepat dan jauh lebih baik daripada produksinya. Sebagian peneliti mengatakan bahwa kemampuan anak dalam komprehensi adalah lima kali lipat di bandingkan dengan produksinya (Benedict 1979 dalam fletcher dan Garman 1981: 6).Fenson dkk (dalam Barret 1995: 363) mengatakan bahwa pada saat anak dapat memproduksi 10 kata, komprehensinya adalah 110 kata; jadi, 11 kali lipat daripada produksinya

B. IMPLIKASI BABBLING TERHADAP MEMBACA AWAL PERMULAAN

Anak umur 6-8 minggu mulai mendengkut (cooing), yakni mereka mengeluarkan bunyi- bunyi yang menyerupai bunyi vokal dan konsonan. Pada umur 6 bulan mulailah anak dengan celoteh (babbling), yakni mengeluarkan bunyi yang berupa suku kata. Pada umur 1 tahun, anak mulai mengeluarkan bunyi yang dapat diidentifikasikan sebagai kata.

Celotehan dimulai dengan kosonan dan diikuti sebuah vokal. Sehingga, strukturnya adalah CV. Ciri lain dari celotehan adalah bahwa CV ini kemudian diulang sehingga muncullah struktur sebagai berikut:

(1) C1V1C1V1C1V1C1V1 … papapapa mamamama papapapa

Orang tua kemudian mengaitkan “kata” papa dengan ayah dan mama dengan ibu meskipun apa yang ada di benak anaktidaklah kita ketahui, tidak mustahil celoteh ini hanya artikulatori belaka.

Kalau kita kaji ulang perkembangan bahasa anak setelah mereka dapat mengucapkan “kata” pertamanya, kita lihat anak pada mulanya berbahasa hanya dengan menggunakan satu kata saja. kata-kata yang diucapakn itu bentuknya sederhana, maknanya konkret, dan mengacu pada benda, kejadian, atau orang yang ada di sekitarnya. Kemudian pada tahun kedua, setelah di mengetahui 50 kata, banyak diantara anak-anak yang telah menggabungkan dua buah kata.

Sejumlah penelitian terhadap dua kata yang terdapat pada berbagai bahasa menunjukkan bahwa di bagian dunia manapun, anak-anak pada usia ini mengucapkan pikiran dan maksud yang sama.

Dari uarian yang telah dipaparkan diatas, dapat ditarik kesimpulan bahwa dalam membaca awal permulaan, hendaknya disesuaikan dengan celotehan (babbling) anak, dimana kata awal yang mereka kenal adalah kata-kata yang dimulai dengan kosonan dan diikuti sebuah vokal. Sehingga, strukturnya adalah CV.

Ciri lain dari celotehan adalah bahwa CV ini kemudian diulang sehingga muncullah struktur sebagai berikut:

(1) C1V1C1V1C1V1C1V1 … papapapa mamamama papapapa

Sehingga membaca awal hendaknya menggunakan pola diatas. Sebagai contoh, dalam membaca awal mulailah dengan kata-kata mama, papa, kaka, dsb. Karena kata-kata yang tersebut bentuknya sederhana, maknanya konkret, dan mengacu pada orang yang ada di sekitarnya

C. PEMEROLEHAN BAHASA ANAK.

Istilah Pemerolehan dipakai untuk padanan istilah inggris acquestion, yakni proses penguasaan bahasa yang dilakukan oleh anak secara natural pada waktu dia belajar bahasa ibunya (native leangue). Istilah ini dibedakan dari pembelajaran yang merupakan padanan dari istilah inggris learning.dalam pengertian ini proses dilakukan dalam tatanan yang formal, yakni belajar menguasai bahasa ibunya adalah pemerolehan, sedangkan proses dari belajar dikelas di sebut pembelajaran.

Pada umumnya kebanyakan ahli kini berpandangan bahwa anak dimanapun juga memperoreh bahasa ibunya dengan memakai strategi yang sama. Kesamaan ini tidak hanya dilandasi oleh biologi dan neurology manusia yang sama tetapi juga oleh pandangan mentalistik yang mengatakan bahwa anak telah di bekali dengan bekal kodrati pada saat di lahirkan. Di samping itu,dalam bahasa juga terdapat konsep universal sehingga anak secara mental telah mengetahui korat-kodrat universal ini.

Karena dalam bahasa ada tiga komponen, yakni, fonologi, sintaksis, dan sematik, yakni, bagaimana anak memperoleh kelayakan dalam berujar.

1.Sejarah Kajian Pemerolehan Bahasa

Minat terhadap bagaimana anak memperoleh bahasa yang sebenarnya sudah lama.konon raja mesir pada abad ke-7 SM Psammeticus I, menyruh bawahannya untuk mengisolasi 2 dari anaknya untuk mengetahui bahasa apa yang akan dikuasi anak-anak itu. Sebagai raja mesir ia menharapkan bahasa yang keluar dari anak-anak nya dalah bahasa arab, meskipun akhirnya dia kecewa.

Charles Darwin pada 1877 juga mencatat perkembangan bahasa anak laki-laki nya (Gleason dan Ratner 1998:349). Catatan harian yang [ada zaman modern berkembang jadi data-data elektronik yang sesuai dengan perkembangan jaman mendorong lebih kuat kajian bagaimana anak memperoleh bahasa.

Tahun 1986 Chosky menggambarkan pemerolehan bahasa anak seperti orkestra yang memainkan suatu simponi, yang difanti dengan permainan gamelan.

2. Metode Penelitian Dalam Memperoleh Bahasa.

Disamping buku catatan harian, metode penelitian yang dipakai juga dapat berupa observasi. Cara inilah yang telah dilakukan oleh orang-orang seperti Brown (1973). Untuk meneliti perkembangan 3 anak Adam,Eve, dan Sarah untuk mengetahui bagaimana system gramatikal mereka perkembangan cucunya dari lahir sampai umur 5 tahun (Dardjowidjojo 2000) khusus dalam Yulianto (2001) juga telah melakukan kajian bagaimana anak memperoleh fonologi bahasa Indonesia dari umur 1;2-2;6.

Metode yang lain adalah metode wawancara metode berguna untuk mengecek sesuatu yang ingin diketahui oleh peneliti.

Metode yang ketiga yang dapat dipakai adalah eksperimen.metode ini dipakai jika peneliti ingin jawaban terhadap suatu masalah.dalam hal ini peneliti memilih topik yang akan di teliti lalu dibuat eksperimen untuk mendapatkan jawabannya.

3. Pemerorehan dalam Bidang Fonologi

Pada waktu dilahirkan, anak hanya memiliki sekitar 20% dari otak dewasanya. Proporsi yang di takdirkan kecil pada manusia ini mungkin memang “dirancang” agar pertumbuhan otaknya Proporsional pula dengan pertumbuhan badannya.

Pada umur sekitar 6 minggu, anak mulai mengeluarkan bunyi-bunyi yang mirip dengan bunyi konsonan atau vocal. Bunyi-bunyi ini belum dapat di pastikan bentuknya karena memang belum terdengar dengan jelas. Proses pengeluaran bunyi-bunyi seperti ini dinamakan cooing, yang telah di terjemahkan menjadi dekutan (Dardjowidjojo 2000: 63). Pada sekitar 6 bulan, anak mulai mencampur konsonan dengan vocal sehingga membentuk apa yang dalam bahasa Inggris dinamakan babbling, yang telah diterjemahkan menjadi celotehan (Dardjowidjojo 2000: 63).

4. Pemerolehan dalam Bidang Sintaksis

Dalam bidang sistaksis, anak memulai berbahasa dengan mengucapkan satu kata (atau bagian kata). Kata ini, bagi anak, sebenarnya adalah kalimat penuh, tetapi karena dia belum dapat mengatakan lebih dari satu kata, dia hanya mengambil satu kata dari seluruh kalimat itu.

Dalam pola pikir yang masih sederhana pun tampaknya anak sudah mempunyai pengetahuan tentang informasi lama versus inforamasi baru. Kalimat diucapkan untuk memberikan informasi baru kepada pendengarnya. Dengan singkat dapat dikatakan bahwa dalam ujaran yang dinamakan Ujaran Satu Kata, USK, (one word utterance) anak tidak sembarangan saja memilih kata itu; dia akanmemilih kata yang memberikan informasi baru. Sekitar umur 2;0 anak mulai mengeluarkan Ujaran Dua Kata, UDK (Two Word Utterance). Anak mulai dengan dua kata yang di selingi jeda sehingga seolah-olah dua kata itu terpisah. Dengan adanya dua kata dalam UDK maka orang dewasa dapat lebih bias menerka apa yang dimaksud oleh anak karena cakupan makna menjadi lebih terbatas.

Meskipun pada UDK semantiknya memeng makin jelas, makna yang dimaksud anak masih tetap harus diterka sesuai dengan konteksnya. Setelah UDK tidak ada ujaran tiga kata yang merupakan tahap khusus. Pada umumnya, pada saat anak mulai memakai UDK, dia juga masih memakai USK. Setelah beberapa lama memakai UDK dia juga mulai mengeluarkan ujaran yang tiga kata atau bahkan lebih. Jadi, antara satu jumlah kata dengan jumlah kata yang lain bukan merupakan tahap yang terputus.

8.2.1 Bentuk Tatabahasa pada Anak

Pada tahun 1963 Martin Braine, Universitas California di Santa Barbara, mendapati dalam penelitiannya bahwa urutan dua kata yang dipakai anak ternyata mengikuti aturan tertentu. Ketiga anak yang dia selidiki tampaknya membagi kata-kata mereka menjadi dua kelompok: (a) kata-kata yang sering muncul, yang tidak pernah sendirian, dan muncul pada posisi tertentu, dan (b) kata-kata yang jumlahnya lebih besar, yang munculnya tidak sesering seperti yang ada pada (a) kata-kata yang sering muncul pada posisi tertentu, dan (b) kata-kata yang jumlahnya lebih besar, yang munculnya tidak sesering seperi kata yang ada pada (a), posisinya juga ada dimana saja, dan bias muncul sendirian. Kata-kata pada (a) dinamakan pivot karena ujaran anak berkisar pada kata-kata ini, dan pada (b) dinamakan open,terbuka.

5. Pemerolehan pada Bidang Leksikon

Sebelum anak dapat mengucapkan kata, dia memakai cara lain untuk berkomunikasi: dia memakai tangis dan gestur (gesture, gerakan tangan, kaki, mata, mulut, dsb). Pada awal hidupnya anak memakai pula gesture seperti senyum dan juluran tangan untuk miminta sesuatu. Dengan cara-cara seperti ini anak sebenarnya memakai “kalimat” yang protodeklaratif dan protoimperatif (Gleanson dan Ratner 1998: 358)

6. Macam kata yang dikuasai

Dari macam kata yang ada, yakni, kata utama dan kata fungsi anak menguasai kata utama lebih dulu.karena kata utama ada paling tidak tiga yakni, nomina, verba, dan adjektiva.

b. Cara Anak Menetukan Makna.

Dalam rangka menentuka makna suatu kata, anak akan mengikuti prinsip-prinsip universal , salah satu diantaranya adalah yang dinamakan overexiension yang telah ditetaokan menjadi penggelembungan makna.diperkenalkan dengan konsep baru , anak cenderung mengambil salah satu fitur dari konsep tersebut.lalu mnerapkan nya pada kosep lain yang memiliki fitur tersebut.

c). Cara Anak Menguasai Makna.

Ada banyak strategi yang digunakan anak untuk menguasai makna bahasa. Diantaranya strategi referensi dengan dengan menganggap bahwa kata pastilah merujuk pada benda, perbuatan, proses, dan atribut.

Strategi-strategi lainnya adalah, strategi cakupan objek, strategi peluasan, cakupan kategorial, strategi nama baru, strategi konvensionalitas,

7. Pemerolehan dalam bidang pragmatik

Pragmatik adalah studi tentang penggunaan bahasa dalam hubungan nya dengan orang lain dalam masyarakat yang sama.pragmatik merupakan komponen ke empatpada bahasa tetapi memberikan perspektif yang berbeda mengenai bahasa.

a). Pemerolehan Niat Komunikatif

Saat minngu pertama lahir anak sudah mulai menunjukan niat komunikatif antara lain dengan tersenyum, menoleh, atau memberikan sesuatu orang lain.

b). Pemerolehan Kemampuan Percakapan.

Mengenai perkembangan kemampuan percakapan, anak juga secara bertahap menguasai aturan-aturan yang ada.percakapan mempunayi struktur yang terdiri dari 3 komponen. Yaitu pembukaan, giliran, penutup.

5. Pengembangan Piranti Wacana.

Pada anak wacana umumnya berbentuk percakapan antara anak dengan orang dewasa atau dengan anak lain. Percakapan ini dapat berjalan dengan cukup berjalan dengan lancar karena interlocutor anak adalah orang-orang dekat yang memberikan dukungan nya kalimat-kalimat penyambung.

D. Hubungan Antara Psikolinguistik Dengan Pembelajaran Bahasa Indonesia Di Sekolah Dasar

Bahasa adalah kemampuan berkomunikasi dengan orang lain. Dalam pengertian ini tercakup semua cara untuk berkomunikasi, dimana fikiran dan perasaan dinyatakan dalam bentuk sebuah tulisan, lisan, isyarat, atau gerak dengan menggunakan kata – kata, kalimat, bunyi, lambang, gambar atau lukisan. Bahasa merupakan hal hakiki yang membedakan manusia dengan hewan. Dengan bahasa manusia dapat mengenal dirinya, sesama manusia, alam sekitar ilmu pengetahuan dan nilai-nilai moral atau agama.

Usia sekolah dasar merupakan masa berkembang dengan pesatnya kemampuan mengenal dan menguasai perbendaharaan kata. Pada awal masa ini, anak sudah menguasai sekitar 2500 kata, pada pada masa akhir (usia 11-12 tahun ) telah dapat menguasai sekitar 50.000 kata. Dengan dikuasainya keterampilan membaca dan berkomunikasi dengan orang lain, anak sudah gemar membaca atau mendengarkan ceritera atau dongeng fantasi (awal usia SD) dan pada usia akhir, dia sudah gemar membaca dan mendengarkan ceritera yang bersifat kritis. Pada masa ini, tingkay berfikir anak sudah lebih maju, dia lebih banyak menanyakan soal waktudan sebab akibat. Oleh karena itu, kata Tanya yang dipergunakanpun , yang semula hanya apa sekarang sudah diikuti dengan pertanyaan : dimana, dari mana, kemana, mengapa dan bgaimana.

Terdapat 2 faktor penting yang mempengaruhi perekmbangan bahasa yaitu :

a. proses jadi matang, dengan perkataan lain anak itu menjadi matang (organ –organ suara / bicara sudah berfungsi)untuk berkata-kata

b. proses belajar ,

yang berarti bahwa anak yang telah matang untuk berbicara lalu mempelajari bahasa orang lain dengan galan mengimitasi atau meniru ucapan/kata-kata yang di dengarnya.proses ini berlangsung sejak masa bayi dan kanak-kanak sehingga pada usia anak memasuki usia sekolah dasar, ia sudah pada tingkat

1. dapat membuat kalimat sempurna.

2. dapat kalimat majemuk.

3. dapat menyusun dan mengajukan pertanyaan

Di sekolah diberikan pelajaran bahasa yang dengan sengaja menambah pembendaharaan kata, mengajar menyusun struktur kalimat pribahasa, kesusastraan, dan keterampilan mengarang. Dengan dibekali pelajaran bahasa ini deharapkan peserta didik dapat menguasai dan mempergunakan sebagai alat untuk.

a. berkomunikasi dengan orang lain

b. menyatakan isi hatinya (perasaan)

c. memahami keterangan yang diterima.

d.berfikir (menyatakan pendapat atau gagasan)

e. mengembangkan kepribadiannya ,seperti menyatakan sikap dan keyakinan.

BAB III

KESIMPULAN

Secara etimilogi psikolinguistik berasal dari kata psikologi dan kata linguistik, yakni dua bidang ilmu yang berbeda dengan prosedur dan metode yang berlainan. Meskipun cara dan tujuan nya berbeda, tetapi banyak juga bagian –bagian objek nya yang dikaji dengan cara yang sama dan dengan tujuan yang sama.

Psikolinguistik, merupakan ilmu hibrida, yaitu ilmu yang merupakan gabungan dari dua ilmu, yaitu Psikologi dan linguistik.

Pada umumnya kebanyakan ahli kini berpandangan bahwa anak dimanapun juga memperoleh bahasa ibunya dengan memakai strategi yang sama. Kesamaan ini tidak hanya dilandasi oleh biologi dan neurology manusia yang sama tetapi juga oleh pandangan mentalistik yang mengatakan bahwa anak telah di bekali dengan bekal kodrati pada saat di lahirkan. Di samping itu,dalam bahasa juga terdapat konsep universal sehingga anak secara mental telah mengetahui korat-kodrat universal ini.Karena dalam bahasa ada tiga komponen, yakni, fonologi, sintaksis, dan sematik, yakni, bagaimana anak memperoleh kelayakan dalam berujar.

Kalau kita kaji ulang perkembangan bahasa anak setelah mereka dapat mengucapkan “kata” pertamanya, kita lihat anak pada mulanya berbahasa hanya dengan menggunakan satu kata saja. kata-kata yang diucapakn itu bentuknya sederhana, maknanya konkret, dan mengacu pada benda, kejadian, atau orang yang ada di sekitarnya dan dalam membaca awal permulaan, hendaknya disesuaikan dengan celotehan (babbling) anak, dimana kata awal yang mereka kenal adalah kata-kata yang dimulai dengan kosonan dan diikuti sebuah vokal.

DAFTAR PUSTAKA

Chaer, Abdul. 2003. Psikolinguistik Kajian Teoritik. Jakarta: Rineka Cipta.

Darjowidjojo, Soejono. 2005. Psikolinguistik: Pengantar Pemahaman Bahasa Manusia. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Tarigan, Henry Guntur. 1988. Metodologi Pengajaran Bahasa I. Bandung: Angkasa.

Yusuf, Syamsu. 1992. Psikolgi kependidikan. Bandung: Andira Bandung.

sastra

KEGILAAN kreatif, kreativitas adalah kegilaan. Dengan kreativitas, kegilaan penciptaan dimungkinkan. Dengan kegilaan pula dapat dikecap capaian-capaian artistik sebuah sajak. Penyair memang terkadang seperti orang ‘gila’. Artinya, di tengah-tengah masyarakatnya penyair acap tampil anomaly, menyendiri, mengasingkan diri dari interaksi massif, dan secara personal menampilkan sosok yang sering nyleneh, aneh, dan sulit diphami. Penampilan seperti itu, bisa jadi merasuki sosok puisi yang diciptakannya sehingga acap pula puisi yang diciptakannya menjadi sulit dipahami. Hal seperti itu tidak ditemukan pada puisi-puisi penyair dari Banjarbaru, Arsyad Indradi, yang menyedot perhatian untuk digumuli. Kegilaan Arsyad Indradi dalam mengeksploitasi dan mengekplorasi seggenap inderanya dalam menciptakan puisi masih dapat dinikmati. Adalah kegilaan manakala dalam satu tahun dia menerbitkan empat buku kumpulan puisi Nyanyian Seribu Burung (April 2006), Narasi Penyair Gila (Mei 2006), Romansa Setangkai Bunga (Juni 2006), dan Kalalatu (September 2006) secara swadana oleh Kelompok Studi Sastra Banjarbaru yang dipimpinnya. Kumpulan puisi Narasi Penyair Gila dibuka dengan sajak Narasi Ayat Batu. Puisi ini secara intens mengungkapkan pergulatan penyair dalam menghayati ‘misteri’ Ilahi. Sebagai pembaca kita lantas ingat adanya prasasti, tugu, daun lontar dan sebagainya yang menyimpan kearifan: Kubelah ayatayat batumu di kulminasi bukit Yang terhampar di sajadahku Kujatuhkan di tebingtebing lautmu Cuma gemuruh ombak dalam takbirku Kuseru namamu tak hentihenti Di ruasruas jari tanganku Yang gemetar dan berdarah Tumpahlah semesta langit Di mata anak Adam yang sujud di kakimu Arsyad Indradi yang memasuki usia 55 tahun pada Desember 2007 juga menyajikan sajak Narasi Pohon Tua seperti ini: Kukalungkan lampulampu di ranjangmu Lalu kujadikan pengantin Lalu kunikahi daunmu kepompong birahi dendam Lahirlah kupukupu Betapa nikmat dalam dahaga Menjelajahi tubuhmu Mencari rangkaian bunga jauh dalam lubuk jantungmu Sajak ini lebih mengedepankan kontemplasi dengan Ilahi. Upaya memperkongkret dan memperintim hubungannya dengan Ilahi ditampilkan melalui penginsanan-hubungan manusiawii dengan idiom symbol hubungan pengantin di ranjang. Dalam sajak Narasi Gairah Embun secara manis penyair menulis seperti ini: Mulutmu wangi sarigading Menyentuh gordengorden jendela Tapi jangan kau buka Sebentar lagi pagi beranjak tiba Secara analogis, metaforis, dan liris, dalam Narasi Tanah Kelahiran, dia menulis: Kau beri aku sampan/ Riakriak menyusuri uraturat nadi/ Wajahmu sudah lain tapi begitu angkuh/ Tumbuh rumah batubatu. Pada sajak Zikir Senja, pergulatan dan pergumuln penyair sampai pada kenyataan: Aku/ Anak Adam/ Yang tersesat di sajadahMu. Memasuki usia senja, penyair semakin intens mengolah rahasia pertemuan dengan Sang Khalik. Intensitas itu membuahkan puisi-puisi relegius yang lembut dan kongkret. Lebih kongkret lagi ketika penyair lantas mengkaji bumi yang dipijak. Bumi yang memberikan kesadaran bahwa persoalan manusia tidaklah semata berkomunikasii dengan Sang Khalik, melainkan juga perlu membaca denyut kehidupan di bumi. Puisi-puisi yang mewakili tema kehidupan di bumi yang ia pijak antara lain Ektase Seorang Pejalan Jauh, Etam Sayang Gunung, Romansa Bulan Saga, Romansa Seekor Hong, Romansa Setangkai Bunga, Roomansa di Bawah Hujan Cinta pun Abadi, Pertemuan, dan Jalan Begitu Lengang. Hal yang unik dan menarik, penyair Arsyad Indradi mencoba menawarkan cara ungkap multikultur dengan memanfaatkan campur kode bahasa Indonesia dan bahasa Inggris dalam beberapa puisinya, seperti As One of the Song, Mamimeca, Elly: Sonta is Silent, dan In My Last Mirrage. Kita cermati bagaimana penyair memakai campur kode bahasa Indonesia dan bahasa Inggris dalam puisinya. Dalam As One of Song, Mamimeca dia menulis: Aku tahu betapa letih wajahmu/Dalam gugusan maha kelam/May soul stay in the wind, Mami. Pemanfaatan campur kode dalam puisi ibarat membuat gado-gado, bahan-bahan yang berlainan dipadu jadi satu, dan ternyata enak juga. Mengakhiri pembicaraan ini, kita tampilkan puisi yang dijadikan judul buku kumpulan puisi. Judul puisi yang dijadikan judul buku, biasanya dijagokan sebagai gambaran pencapaian estetis dan gambaran sikap penyairnya. Bagaimanakah capaian estetis dan gambaran sikap penyair Arsyad Indradi? Kita simak sajak Narasi Musyafir Gila selengkapnya. Mendadak cahaya itu terjebak dalam belitan kabut Porakporandalah cakrawala dan aku kembali harus bergumul dengan persimpangan jalan Tapi aku tak sudi mengatakan: Ajalkan aku di sini Kudakudaalas berloncatan pada goncangan bumi Pada angin yang menepuk dada Kugilakan musafirku ke padang luas Padang abadabad persembunyianmu Sebab aku telah mengatakann: Kuabukan s’luruh mimpimimpi purbaku Dan kutapakan dalam tubuhtembokmu Agar tak kan kauu usik lagi s’luruh jejakmu Puisi yang ditulis di Bandung pada 2006 seakan menandai penggembaraan spiritual penyair. Arsyad Indradi tampaknya sampai pada suatu halte, tempat istirah sejenak, tujuan perjalanan, dan tempat bertolak melakukan petualangan yang lebih gila. Estetika yang ditawarkan penyair, pola ucap puisi-puisinya, dan tematis puisi-puisinya tampaknya akan serupa air yang mengalir menuju muara makna.

sejarah islam

Sejarah Nabi Muhammad SAW

Lagi-lagi sebuah sejarah dilupakan, seakan-akan mereka tidak pernah tahu atau mungkin tidak mau tahu, ini adalah sejarah yang tak boleh dilupakan, karena inilah sebab awal penciptaan dan akhir penciptaan, ia bermula 14 abad yang lalu di sebuah kota kecil, sebuah kota yang panas dan tandus yang dipenuhi dengan penyembahan terhadap kayu-kayu dan batu-batu yang tak dapat berbuat apa-apa dan juga disana terdapat sebuah kotak hitam yang dikelilingi oleh “berhala-berhala” yang sekarang telah berubah wujud tapi memiliki wujud “berhala” yang sama. Sungguh tak terpikirkan betapa bodoh manusia zaman itu, ialah sebuah jazirah yang disebut jazirah Arabia, perbuatan buruk dan haram, perampokan, pembunuhan bayi,minum-minuman keras, yang memusnahkan segala kebajikan dan moral menempatkan masyarakat jazirah Arabia ini dalam situasi kemerosotan yang luar biasa. Mereka terpecah-pecah menjadi kabilah-kabilah (bani/kaum).

I. Kelahiran Sang Nabi

Pada saat yang sangat kritis ini muncullah sebuah bintang pada malam yang gelap gulita, sinarnya semakin terang membuat malam menjadi terang benderang, ia bukan bintang yang biasa, tapi bintang yang sangat luar biasa, bahkan matahari di siang haripun malu menampakkan sinarnya karena bintang ini adalah maha bintang yang terlahirkan ke muka bumi, ialah cahaya dalam kegelapan, ia adalah cahaya di dalam dada, ia dikenal dengan Nama Muhammad, menurut sejarawan bintang ini tepat terlahir tanggal 17 Rabi’ul Awwal (12 Rabi’ul awwal menurut mazhab sunni) 570 M, bintang ini tak pernah padam walaupun 14 abad setelah ketiadaannya, bahkan ia semakin terang dan semakin terang, dari bintang ini terlahir 13 bintang yang lain, yang selalu menjadi hujjah bagi bintang-bintang yang sulit bersinar lainnya di setiap zamannya. Ia memiliki silsilah yang berhubungan langsung dengan jawara Tauhid melalui anaknya Ismail AS, yang dilahirkan melalui rahim-rahim suci dan terpelihara dari perbuatan-perbuatan mensekutukan Tuhan. Ia begitu suci sehingga Tuhan memerintahkan kepada Para Malaikat dan Jin untuk bersujud kepada Adam, karena cahayanya dibawa oleh Adam AS untuk disampaikan kepada maksud, ia adalah rencana Tuhan yang teramat besar yang langit dan bumi pun tak kan sanggup memikulnya.

Peristiwa kelahiran sang bintang dipenuhi dengan kejadian-kejadian yang luarbiasa, dimulai dengan peristiwa padamnya api “abadi” di kerajaan Persia, hancurnya sesembahan batu di sana, dan penyerangan pasukan bergajah untuk menghancurkan Ka’bah, yang di kemudian hari menjadi kiblat baginya dan ummatnya sampai akhir zaman, namun tentara yang besar ini dihancurkan oleh burung-burung yang dikirimkan oleh Sang Pemilik kiblat (Ka’bah), karenanya tahun ini dinamakan tahun Gajah. Sudah menjadi tradisi kelahiran manusia luar biasa harus juga didahului peristiwa yang luar biasa. Muhammad namanya, ayahnya bernama Abdullah, Ibundanya Aminah, kedua orang tuanya berasal dari silsilah yang mulia yang merupakan keturunan Jawara Tauhid (Ibrahim AS). Abdullah lahir kedunia hanya untuk membawa nur Muhammad dan “meletakkannya” ke dalam rahim Aminah, Sang isteri saat itu mengandung (2 bulan) bayi yang kelak menjadi manusia besar. Setelah lama kepergian sang suami, sang isteri merasakan kesepian yang amat dalam, walaupun suaminya selalu berkirim surat. Namun pada saat lain surat tidak lagi ia terima, begitu riang hatinya ternyata ia melihat rombongan dagang suaminya telah pulang, tapi Ia amat terkejut karena tak dilihatnya suaminya, datanglah seseorang dari rombongan tersebut yang menyampaikan berita kepada Aminah, mulutnya begitu berat untuk mengucapkan kata – kata ini kepada wanita ini, ia tidak sanggup mengutarakannya, namun akhirnya terucap juga bahwa sang suami telah berpulang ke hadirat Allah Swt dan dimakamkan di abwa.

Begitu goncang hatinnya mendengarkan hal ini, tak sanggup menahan tangisnya, ia menangis menahan sedih dan tak makan beberapa hari, namun ia bermimpi, dalam mimpinya seorang wanita datang dan berkata kepadanya agar ia menjaga bayi dalam janinnya dengan baik – baik. Ia berulang kali bermimpi bertemu dengan wanita tersebut yang ternyata adalah Maryam binti Imran (Ibu Isa as). Dalam mimpinya sang wanita mulia ini berkata : “Kelak bayi yang ada didalam rahimmu akan menjadi manusia paling mulia sejagat raya, maka jagalah ia baik – baik hingga kelahirannya.

Saat ayahanda Muhammad yang mulia ini Wafat dalam usia 20 tahun (riwayat lain – 17 tahun), sang bintang kita ini sedang berada dalam kandungan ibunya, beberapa tahun kemudian Bunda Sang bintang menyusul suaminya dan dimakamkan di Abwa juga. Muhammad dibawa pulang oleh Ummu Aiman dan diasuh oleh kakeknya, belum lagi hilang duka setelah ditinggal Sang Bunda, ia pun harus kehilangan kakeknya ketika umurnya belum lagi menginjak delapan tahun. Setelah kepergian sang kakek, sang bintang (Muhammad) diasuh oleh pamannya, Abu Tholib, seorang putra Abdul Mutholib yang pertama menyatakan keimanannya kepada kemenakannya sendiri (Muhammad). Pemandu ilahi selalu saja dipilihkan oleh Ilahi untuk memiliki profesi sebagai seorang gembala, melalui profesi ini beliau mengarungi beberapa waktu kehidupannya untuk menjadi “gembala” domba yang lebih besar, inilah pilihan Ilahi yang memilihkan baginya sebuah jalan dimana hal ini penting bagi orang yang akan berjuang melawan orang-orang hina yang berpikiran sampai menyembah aneka batu dan pohon, ilahi menjadikannya kuat sehingga tidak menyerah kepada apapun kecuali keputusan-Nya. Ada penulis sirah yang mengutip kalimat Nabi berikut ini, “ Semua Nabi pernah menjadi gembala sebelum beroleh jabatan kerasulan.” Orang bertanya kepada Nabi,” Apakah Anda juga pernah menjadi gembala?” Beliau menjawab,” Ya. Selama beberapa waktu saya menggembalakan domba orang Mekah di daerah Qararit.”

Sang bintang terlahir bukan dari kalangan orang yang teramat kaya, belum lagi ia dilahirkan sebagai seorang yatim, dan telah kehilangan Ayah, Ibu di masa kecil sebagai tempat bernaung, apa yang dapat dikatakan oleh anak kecil yang telah kehilangan kedua orang tuanya sedangkan dia sendiri masih membutuhkan naungan kedua orang tua dan kasih sayang mereka. Mari kita masuk ke jazirah Arabia lebih jauh lagi, kita dapat melihat bahwa kondisi keuangan Muhammad terbilang cukup sulit. Muhammad terkenal dengan kemuliaan rohaninya, keluhuran budi, keunggulan ahklaq dan dirinya dikenal di masyarakat sebagai “orang jujur” (al-Amin), ia menjadi salah seorang kafilah dagang Khodijah yang terpercaya dan Khodijah memberikan dua kali lipat dibandingkan yang diberikannya kepada orang lain. Kafilah Quraisy, termasuk barang dagangan Khodijah, siap bertolak, kafilah tiba di tempat tujuan. Seluruh anggotanya mengeruk laba. Namun, laba yang diperoleh Nabi lebih banyak ketimbang lain. Kafilah kembali ke Makkah. Dalam perjalanan, Sang bintang melewati negeri ‘Ad dan Tsamud. Keheningan kematian yang menimpa kaum pembangkang itu mengundang perhatian sang bintang.

Kafilah mendekati Mekah, Maisarah, berkata kepada sang Bintang, “Alangkah baiknya jika Anda memasuki Mekah mendahului kami dan mengabarkan kepada Khodijah tentang perdagangan dan keuntungan besar yang kita dapatkan.” Nabi tiba di Mekah ketika Khodijah sedang duduk di kamar atasnya. Ia berlari turun dan mengajak Nabi ke ruangannya. Nabi menyampaikan, dengan menyenangkan, hal-hal menyangkut barang dagangan. Maisarah menceritakan tentang Kebesaran jiwa Al-Amin selama perjalanan dan perdagangan. Maisarah menceritakan “Di Busra, Al-Amin duduk di bawah pohon untuk istirahat. Seorang pendeta, yang sedang duduk di biaranya, kebetulan melihatnya. Ia datang seraya menanyakan namanya kepada saya, kemudian ia berkata, ‘Orang yang duduk di bawah naungan pohon itu adalah nabi, yang tentangnya telah saya baca banyak kabar gembira di dalam Taurat dan Injil.

Kemudian Khodijah menceritakan apa yang didengarnya dari Maisarah kepada Waraqah bin Naufal, si hanif dari Arabia. Waraqah mengatakan, “Orang yang memiliki sifat-sifat itu adalah nabi berbangsa Arab.

II. Pernikahan

Kebanyakan sejarawan percaya bahwa yang menyampaikan lamaran Khadijah kepada Nabi ialah Nafsiah binti ‘Aliyah sebagai berikut:

“Wahai Muhammad! Katakan terus terang, apa sesungguhnya yang menjadi penghalang bagimu untuk memasuki kehidupan rumah tangga? Kukira usiamu sudah cukup dewasa!” Apakah anda akan menyambut dengan senang hati jika saya mengundang Anda kepada kecantikan, kekayaan, keanggunan, dan kehormatan ?” Nabi menjawab,”Apa maksud Anda?” Ia lalu menyebut Khodijah. Nabi lalu berkata,” Apakah Khodijah siap untuk itu, padahal dunia saya dan dunianya jauh berbeda?” Nafsiah berujar “Saya mendapat kepercayaan dari dia, dan akan membuat dia setuju. Anda perlu menetapkan tanggal perkawinan agar walinya (‘Amar bin Asad) dapat mendampingi Anda beserta handai tolan Anda, dan upacara perkawinan dan perayaan dapat diselenggarakan”.

Kemudian Muhammad membicarakan hal ini kepada pamannya yang mulia, Abu Tholib. Pesta yang agung pun diselenggarakan, sang paman yang mulia ini menyampaikan pidato, mengaitkannya dengan puji syukur kepada Tuhan. Tentang keponakannya, ia berkata demikian, “Keponakan saya Muhammad bin ‘Abdullah lebih utama daripada siapapun di kalangan Quraisy. Kendati tidak berharta, kekayaan adalah bayangan yang berlalu, tetapi asal usul dan silsilah adalah permanen”.

Waraqah, paman Khodijah, tampil dan mengatakan sambutannya, “Tak ada orang Quraisy yang membantah kelebihan Anda. Kami sangat ingin memegang tali kebangsawanan Anda.” Upacara pun dilaksanakan. Mahar ditetapkan empat puluh dinar-ada yang mengatakan dua puluh ekor unta.

Sang bintang sekarang mulai dewasa, ia mempunyai seorang istri yang begitu lengkap kemuliaannya, dari perkawinan ini Khodijah melahirkan enam orang anak, dua putra, Qasim, dan Abdulah, yang dipanggil At-Thayyib, dan At-Thahir. Tiga orang putrinya masing-masing Ruqayyah, Zainab, Ummu Kaltsum, dan Fatimah. Kedua anak laki-lakinya meninggal sebelum Muhammad diutus menjadi Rosul.

Ketika umur sang bintang mulai menginjak 35 tahun, banjir dahsyat mengalir dari gunung ke Ka’bah. Akibatnya, tak satu pun rumah di Makah selamat dari kerusakan. Dinding ka’bah mengalami kerusakan. Orang Quraisy memutuskan untuk membangun Ka’bah tapi takut membongkarnya. Walid bin Mughirah, orang pertama yang mengambil linggis, meruntuhkan dua pilar tempat suci tersebut. Ia merasa takut dan gugup. Orang Mekah menanti jatuhnya sesuatu, tapi ketika ternyata Walid tidak menjadi sasaran kemarahan berhala, mereka pun yakin bahwa tindakannya telah mendapatkan persetujuan Dewa. Mereka semua lalu ikut bergabung meruntuhkan bangunan itu. Pada saat pembangunan kembali ka’bah, diberitahukan pada semua pihak sebagai berikut, “Dalam pembangunan kembali Ka’bah, yang dinafkahkan hanyalah kekayaan yang diperoleh secara halal. Uang yang diperoleh lewat cara-cara haram atau melalui suap dan pemerasan, tak boleh dibelanjakan untuk tujuan ini.” Terlihat bahwa ini adalah ajaran para Nabi, dan mereka mengetahui tentang kekayaan yang diperoleh secara tidak halal, tetapi kenapa mereka masih melakukan hal demikian, inipun terjadi di zaman ini, di Indonesia, rakyat ataupun pemerintahnya mengetahui tentang halal dan haramnya suatu harta kekayaan atau pun perbuatan yang salah dan benar, tapi mereka masih saja melakukan perbuatan itu walaupun tahu itu adalah salah.

Mari kita kembali lagi menuju Mekah, ketika dinding ka’bah telah dibangun dalam batas ketinggian tertentu, tiba saatnya untuk pemasangan Hajar Aswad pada tempatnya. Pada tahap ini, muncul perselisihan di kalangan pemimpin suku. Masing-masing suku merasa bahwa tidak ada suku yang lain yang pantas melakukan perbuatan yang mulia ini kecuali sukunya sendiri. Karena hal ini, maka pekerjaan konstruksi tertunda lima hari. Masalah mencapai tahap kritis, akhirnya seorang tua yang disegani di antara Quraisy, Abu Umayyah bin Mughirah Makhzumi, mengumpulkan para pemimpin Quraisy seraya berkata,”Terimalah sebagai wasit orang pertama yang masuk melalui Pintu Shafa.” (buku lain mencatat Bab as-salam). Semua menyetujui gagasan ini. Tiba-tiba Muhammad muncul dari pintu. Serempak mereka berseru, “Itu Muhammad, al-Amin. Kita setuju ia menjadi wasit!”

Untuk menyelesaikan pertikaian itu, Nabi meminta mereka menyediakan selembar kain. Beliau meletakkan Hajar Aswad di atas kain itu dengan tangannya sendiri, kemudian meminta tiap orang dari empat sesepuh Mekah memegang setiap sudut kain itu. Ketika Hajar Aswad sudah diangkat ke dekat pilar, Nabi meletakkannya pada tempatnya dengan tangannya sendiri. Dengan cara ini, beliau berhasil mengakhiri pertikaian Quraisy yang hampir pecah menjadi peristiwa berdarah.

Tuhan, Sang Maha Konsep sudah membuat konsep tentang semua ini, tanda-tanda seorang bintang telah banyak ia tampakkan pada diri Muhammad, dari batinnya yang mulia sampai pada bentuk lahirnya yang indah. Kesabaran yang diabadikan di dalam Kitab suci menjadi bukti yang tak terbantahkan, bahwa ia adalah manusia sempurna, dalam wujud lahiriah (penampakan), maupun batinnya. Tidak setitik cela apalagi kesalahan selama hidupnya, Sang Maha Konsep benar-benar telah mengonsepnya menjadi manusia ‘ilahi’. Al-Amin telah dikenal oleh masyarakat Mekah, sebagai manusia mulia, sebagai manifestasi wujud kejujuran mutlak. Sebelum pengutusannya menjadi Rosul, Muhammad selalu mengamati tanda kekuasaan Tuhan, dan mengkajinya secara mendalam, terutama mengamati keindahan, kekuasaan, dan ciptaan Allah dalam segala wujud. Beliau selalu melakukan telaah mendalam terhadap langit, bumi dan isinya. Beliau selalu mengamati masyarakatnya yang rusak, dan hancur, beliau mempunyai tugas untuk menghancurkan segala bentuk pemberhalaan. Apalah kiranya yang membuat masyarakatnya seperti ini, ia mengembalikan semua ini kepada Tuhan, yang menurutnya tak mungkin sama dengan manusia.

Gunung Hira, puncaknya dapat dicapai kurang lebih setengah jam, gua ini adalah saksi atas peristiwa menyangkut “sahabat karib”-nya (Muhammad), gua ini menjadi saksi bisu tentang wahyu, dan seakan-akan ia ingin berkata,” disinilah dulu anak Hasyim itu tinggal, yang selalu kalian sebut-sebut, disinilah ia diangkat menjadi Rosul, disinilah Al-Furqon pertama kali dibacakan, wahai manusia, bukankah aku telah mengatakannya, kalianlah (manusia) yang tak mau menengarkannya, kalian menutup telinga kalian rapat-rapat, dan menertawakanku, sedangkan sebagian dari kalian hanya menjadikan aku sebagai museum sejarah.“kata saksi bisu.

III. Diangkat Menjadi Rasul

Hira, tempat diturunkannya kalimat Tuhan Yang Maha Sakti, kalimat yang membuat iblis berputus asa untuk menyesatkan manusia, kalimat yang dengannya alam semesta berguncang. Al-Qur’an, susunan kalimatnya yang mengandung makna yang banyak telah membuat tercengang manusia-manusia manapun di jagat raya, yang mengakui kebenarannya, akan mengikutinya, sedangkan yang tidak mengakuinya harus tunduk atas kebenarannya, dan bagi mereka yang menolak, dengan cara apapun akan sia-sia, dan celaka. Jibril (Ruh Al-Qudus) diutus Tuhan semesta Alam, Sang Pemilik Konsep, untuk menyampaikan kalimat-Nya secara berangsur-angsur kepada Al-amin yang berada di Gunung Hira’. Al-Amin telah mempersiapkan dirinya selama empat puluh tahun untuk memikul tugas yang maha berat ini, Jibril datang kepadanya dengan membawa beberapa kalimat dari Tuhannya. Ialah kalimat pertama yang dikemukakan dalam Al-qur’an sebagai berikut

“Bacalah dengan [ menyebut] nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Paling Pemurah. Yang mengajari [manusia] dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya”.

Ayat ini dengan tegas menyatakan tentang program Nabi, dan menyatakan dalam istilah-istilah jelas bahwa fondasi agamanya diberikan dengan pengkajian, pengetahuan, kebijaksanaan, dan penggunaan pena.

Muhammad, pembawa berita bahagia, ancaman, dan perintah merupakan manusia teladan sepanjang masa, ia adalah manusia dalam wujud Ilahiah, utusan Tuhan yang kepadanya ummat manusia memohonkan syafa’at. Tidak satupun mahkluq yang mencapai kesempurnaan yang dicapai Muhammad, sejak kecil ia telah memperlihatkan ketulusan, kejujuran, manusia yang seumur hidupnya tidak pernah berbohong, yang tidak pernah menghianati janji, dan sayang kepada yang miskin.

Malaikat Jibril menyelesaikan tugasnya menyampaikan wahyu itu, dan Muhammad pun turun dari Gua Hira menuju rumah “Khodijah”. Jiwa agung Nabi disinari cahaya wahyu. Beliau merekam di hatinya apa yang didengarnya dari malaikat Jibril. Setelah kejadian ini, Jibril menyapanya,”Wahai Muhammad! Engkau Rosul Allah dan aku Jibril”. Muhammad menerima kalimat Tuhannya secara bertahap, secara berangsur-angsur, fakta sejarah mengakui bahwa di antara wanita, Khodijah adalah wanita yang pertama memeluk Islam, dan pria pertama yang memeluk Islam adalah ‘Ali.

Muhammad mengadakan perjamuan makan dengan kerabatnya, selesai makan, beliau berpaling kepada para sesepuh keluarganya dan memulai pembicaraan dengan memuji Allah dan memaklumkan keesaan-Nya. Lalu beliau berkata,” Sesungguhnya, pemandu suatu kaum tak pernah berdusta kepada kaumnya. Saya bersumpah demi Allah yang tak ada sekutu bagi-Nya bahwa saya diutus oleh Dia sebagai Rosul-Nya, khususnya kepada Anda sekalian dan umumnya kepada seluruh penghuni dunia. Wahai kerabat saya! Anda sekalian akan mati. Sesudah itu, seperti Anda tidur, Anda akan dihidupkan kembali dan akan menerima pahala menurut amal Anda. Imbalannya adalah surga Allah yang abadi (bagi orang lurus) dan neraka-Nya yang kekal(bagi orang yang berbuat jahat). “Lalu beliau menambahkan, “Tak ada manusia yang pernah membawa kebaikan untuk kaumnya ketimbang apa yang saya bawakan untuk Anda. Saya membawakan kepada Anda rahmat dunia maupun Akhirat. Tuhan saya memerintahkan kepada saya untuk mengajak Anda kepada-Nya. Siapakah diantara Anda sekalian yang akan menjadi pendukung saya sehingga ia akan menjadi saudara, washi (penerima wasiat), dan khalifah (pengganti) saya?”.

Ketika pidato Nabi mencapai poin ini, kebisuan total melanda pertemuan itu. ‘Ali, remaja berusia lima belas tahun, memecahkan kebisuan itu. Ia bangkit seraya berkata dengan mantap,” Wahai Nabi Allah, saya siap mendukung Anda.” Nabi menyuruhnya duduk. Nabi mengulang tiga kali ucapannya, tapi tak ada yang menyambut kecuali ‘Ali yang terus melontarkan jawaban yang sama. Beliau lalu berpaling kepada kerabatnya seraya berkata,” Pemuda ini adalah saudara, washi, dan khalifah saya diantara kalian. Dengarkanlah kata-katanya dan ikuti dia”.

Pemakluman khilafah (imamah) ‘Ali di hari-hari awal kenabian Muhammad memperlihatkan bahwa dua kedudukan ini berkaitan satu sama lain. Ketika Rosulullah diperkenalkan kepada masyarakat, khalifahnya juga ditunjuk dan diperkenalkan pada hari itu juga. Ini dengan sendirinya menunjukkan bahwa kenabian dan imamah merupakan dua hal yang tak terpisahkan.

Peristiwa diatas membuktikan heroisme spiritual dan kebenaran ‘Ali. Karena, dalam pertemuan di mana orang-orang tua dan berpengalaman tenggelam dalam keraguan dan keheranan, ia menyatakan dukungan dan pengabdian dengan keberanian sempurna dan mengungkapkan permusuhannya terhadap musuh Nabi tanpa menempuh jalan politisi yang mengangkat diri sendiri. Kendati waktu itu ia yang termuda diantara yang hadir, pergaulannya yang lama dengan Nabi telah menyiapkan pikirannya untuk menerima kenyataan, sementara para sesepuh bangsa ragu-ragu untuk menerimanya.

Setelah berdakwah kepada kaum kerabatnya, Nabi berdakwah terang-terangan kepada kaum Quraisy. Muhammad, berbekal kesabaran, keyakinan, kegigihan, dan keuletan dalam berdakwah terus-menerus dan tidak menghiraukan orang-orang musrik yang terus menghardik dan mengejeknya. Banyak yang cara yang dilakukan kaum Quraisy untuk menghentikan Muhammad, suatu saat Abu Tholib sedang duduk bersama keponakannya. Juru bicara rombongan yang mendatangi rumah Abu Tholib membuka pembicaraan dengan berkata,” Wahai Abu Tholib! Muhammad mencerai-beraikan barisan kita dan menciptakan perselisihan diantara kita. Ia merendahkan kita dan mencemooh kita dan berhala kita. Jika ia melakukan itu karena kemiskinan dan kepapaannya, kami siap menyerahkan harta berlimpah kepadanya. Jika ia menginginkan kedudukan, kami siap menerimanya sebagai penguasa kami dan kami akan mengikuti perintahnya. Bila ia sakit dan membutuhkan pengobatan, kami akan membawakan tabib ahli untuk merawatnya…”.

Abu Tholib berpaling kepada Nabi seraya berkata,“ Para sesepuh anda datang untuk meminta Anda berhenti mengkritik berhala supaya mereka pun tidak mengganggu Anda.” Nabi menjawab,” Saya tidak menginginkan apa pun dari mereka. Bertentangan dengan empat tawaran itu, mereka harus menerima satu kata dari saya, yang dengan itu mereka dapat memerintah bangsa Arab dan menjadikan bangsa Ajam sebagai pengikut mereka.” Abu Jahal bangkit sambil berkata, “ Kami siap sepuluh kali untuk mendengarnya.” Nabi menjawab,” Kalian harus mengakui keesaan Tuhan.” Kata-kata tak terduga dari Nabi ini laksana air dingin ditumpahkan ke ceret panas. Mereka demikian heran, kecewa, dan putus asa sehingga serentak mereka berkata,” Haruskah kita mengabaikan 360 Tuhan dan menyembah kepada satu Allah saja?”

Orang Quraisy meninggalkan rumah Abu Tholib dengan wajah dan mata terbakar kemarahan. Mereka terus memikirkan cara untuk mencapai tujuan mereka. Dalam ayat berikut, kejadian itu dikatakan,

“Dan mereka heran karena mereka kedatangan seorang pemberi peringatan dari kalangan mereka; dan orang-orang kafir berkata,’Ini adalah seorang ahli sihir yang banyak berdusta. Mengapa ia menjadikan tuhan-tuhan itu Tuhan Yang Satu saja ? Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan.’ Dan pergilah pemimpin-pemimpin mereka [seraya berkata], ‘Pergilah kamu dan tetaplah [menyembah] tuhan-tuhanmu, sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang dikehendaki. Kami tidak pernah mendengar hal ini dalam agama yang terakhir ini; ini(mengesakan Allah) tidak lain kecuali dusta yang diada-adakan.”

Banyak sekali contoh penganiayaan dan penyiksaan kaum Quraisy, Tiap hari nabi menghadapi penganiayaan baru. Misalnya, suatu hari Uqbah bin Abi Mu’ith melihat Nabi bertawaf, lalu menyiksanya. Ia menjerat leher Nabi dengan serbannya dan menyeret beliau ke luar masjid. Beberapa orang datang membebaskan Nabi karena takut kepada Bani Hasyim. Dan masih banyak lagi. Nabi menyadari dan prihatin terhadap kondisi kaum Muslim. Kendati beliau mendapat dukungan dan lindungan Bani Hasyim, kebanyakan pengikutnya budak wanita dan – pria serta beberapa orang tak terlindung. Para pemimpin Quraisy menganiaya orang-orang ini terus-menerus , para pemimpin terkemuka berbagai suku menyiksa anggota suku mereka sendiri yang memeluk Islam. Maka ketika para sahabatnya meminta nasihatnya menyangkut hijrah, Nabi menjawab, “Ke Etiopia akan lebih mantap. Penguasanya kuat dan adil, dan tak ada orang yang ditindas di sana. Tanah negeri itu baik dan bersih, dan Anda boleh tinggal di sana sampai Allah menolong Anda.

Pasukan Syirik Quraisy kehabisan akal untuk menghancurkan Muhammad, maka mereka melakukan propaganda anti Muhammad, diantaranya mereka memfitnah Nabi, Bersikeras menjuluki Nabi Gila, larangan mendengarkan Al-Qur’an, menghalangi orang masuk Islam, sehingga Allah mengabadikan perkataan orang-orang keji ini dan menunjukkan sesatnya perkataan mereka, dalam Al-Qur’an Allah berfirman

“Demikianlah, tiada seorang rosul pun yang datang kepada orang-orang yang sebelum mereka selain mengatakan,’ Ia adalah seorang tukang sihir atau orang gila.’ Apakah mereka saling berpesan tentang apa yang dikatakan itu ? Sebenarnya mereka adalah kaum yang melampaui batas.”

Kaum Quraisy pun gagal melakukan berbagai macam cara untuk menghalangi usaha Muhammad, dan menghalangi orang-orang untuk mengikuti agama Tuhan Yang Esa. Mereka pun melakukan Blokade ekonomi yang membuat banyak kaum muslim, terutama kaum wanita dan anak-anak kelaparan. Nabi dan para pengikutnya masuk ke Syi’ib Abu Tholib, yang diikuti pendamping hidupnya, Khodijah, dengan membawa serta Fatimah AS. Orang-orang Quraisy mengepung mereka di Syi’ib itu selama tiga tahun. Dan akhirnya tahun-tahun blokade itu pun berakhir. Dan keluarlah sang bintang bersama keluarga dan sahabatnya dari pengepungan. Allah telah menetapkan kemenangan bagi mereka, dan Khodijah pun berhasil pula keluar dari pengepungan dalam keadaan amat berat dan menderita, Beliau telah hidup dengan kehidupan yang menjadi teladan Istimewa bagi kalangan kaum wanita. Ajal Khodijah sudah dekat. Allah telah memilihnya untuk mendampingi Rosulullah Saww., dan dia telah berhasil menunaikan tugas dengan baik. Khodijah akhirnya meninggal pada tahun itu juga. Yakni, pada saat kaum Muslim keluar dari blokade orang-orang Quraisy, tahun kesepuluh sesudah Kenabian. Pada tahun yang sama, paman Rosul (Abu Tholib) meninggal dunia, yang sekaligus sebagai pelindung dakwa Muhammad. Sungguh Nabi mengalami kesedihan yang amat berat. Beliau kehilangan Khodijah, dan juga pamannya yang menjadi pelindung, dan pembelanya. Itu sebabnya, maka tahun ini dinamakan ‘Am Al-Huzn (Tahun Duka cita). Bukan hanya Rosul yang terpukul hatinya, Fatimah, yang belum kenyang mengenyam kasih sayang seorang ibu dan kelembutan belaiannya, ikut pula menanggungnya. Kedukaan menyelimuti dan menindihnya di tahun penuh kesedihan itu.Fatimah kehilangan ibundanya, berpisah dari orang yang menjadi sumber cintanya dan kasih sayangnya. Acap kali dia bertanya kepada ayahandanya,” Ayah, kemana Ibu?” Kalau sudah begini, tangisnya pecah, air matanya meleleh, dan kesedihan menerpa hatinya. Rosul merasakan betapa berat kesedihan yang ditanggung putrinya. Setelah wafatnya Abu Tholib kaum Kafir Quraisy semakin berani menganggu Muhammad, akhirnya Muhammad berhijrah ke Yastrib, peristiwa hijrahnya Nabi ke Yastrib, merupakan momen awal dari lahirnya negara Islam. Penduduk Yastrib bersedia memikul tanggung jawab bagi keselamatan Nabi. Di bulan Robi’ul Awwal tahun ini, saat hijrahnya Nabi terjadi, tak ada seorang muslim pun yang tertinggal di Mekah kecuali Nabi, ‘Ali dan Abu Bakar, dan segelintir orang yang ditahan Quraisy atau karena sakit,dan lanjut usia.

Kaum Quraisy yang berada di Mekah akhirnya membuat kesepakatan untuk membunuh Muhammad di malam hari, dan masing-masing suku mempunyai wakil, sehingga Bani Hasyim tidak dapat menuntut balas atas kematian Muhammad. Orang-orang ini memang bodoh, mereka mengira Muhammad dapat dihancurkan hanya dengan cara seperti ini, seperti urusan duniawi mereka. Jibril datang memberitahu Nabi tentang rencana kejam kaum kafir itu. Al-Qur’an merujuk pada kejadian itu dengan kata-kata,

“Dan [ingatlah] ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu atau mengusirmu. Mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baik Pembalas tipu daya.

Ali berbaring melewati cobaan yang mengerikan demi keselamatan Islam menggantikan Nabi, sejak sore. Ia bukan orang tua yang lanjut usia, tapi seorang anak muda yang begitu berani mengorbankan nyawanya untuk sang Nabi, ia, yang bersama Khodijah adalah orang yang pertama-tama beriman kepada Nabi, dialah orang yang rela berkorban untuk Nabi, Ali, sekali lagi ‘Ali. Kepadanya Nabi berkata,”Tidurlah di ranjang saya malam ini dan tutupi tubuh Anda dengan selimut hijau yang biasa saya gunakan, karena musuh telah bersekongkol membunuh saya. Saya harus berhijrah ke Yastrib. ‘Ali menempati ranjang Nabi sejak sore. Ketika tiga perempat malam lewat, empat puluh orang mengepung rumah nabi dan mengintipnya melalui celah. Mereka melihat keadaan rumah seperti biasanya, dan menyangka bahwa orang yang sedang tidur di kamar itu adalah Nabi.

IV. Hijrah

Kini tiba fajar. Semangat dan gairah besar tampak di kalangan musyrik itu. Mereka begitu yakin akan segera berhasil. Dengan pedang terhunus mereka memasuki kamar Nabi, yang menimbulkan suara gaduh. Serentak ‘Ali mengangkat kepalanya dari bantal dan menyingkirkan selimutnya lalu berkata dengan sangat tenag,”Apa yang terjadi ?” Mereka menjawab,”Kami mencari Muhammad. Di mana dia?” ’Ali berkata,” Apakah anda menitipkannya kepada saya sehingga saya harus menyerahkannya kembali kepada Anda? Bagaimanapun, sekarang ia tak ada di rumah.” Muhammad telah pergi jauh di luar pengetahuan mereka.

Nabi, tiba di Quba tanggal 12 Rabi’ul Awwal, dan tinggal di rumah Ummu Kultsum ibn al-Hadam. Sejumlah Muhajirin dan Ansor sedang menunggu kedatangan Nabi. Beliau tinggal di situ sampai akhir pekan. Sebagian orang mendesak agar beliau segera berangkat ke Madinah, tetapi beliau menunggu kedatangan ‘Ali. Orang Quraisy mengetahui hijrahnya ‘Ali dan rombongannya – diantaranya ialah Fatimah, puteri Nabi, Fatimah binti ‘Asad dan Fatimah binti Hamzah bin Abdul Mutholib – karena itu, mereka memburunya dan berhadap-hadapan dengan dia di daerah Zajnan. Perselisihan pun terjadi dan ‘Ali berkata “Barangsiapa menghendaki tubuhnya terpotong-potong dan darahnya tumpah, majulah! Tanda marah nampak di wajahnya. Orang-orang Quraisy yang merasa bahwa masalah telah menjadi serius, mengambil sikap damai dan berbalik pulang.” Ketika ‘Ali tiba di Quba, kakinya berdarah, dikarenakan menempuh perjalanan Makah Madinah dengan berjalan kaki. Nabi dikabari bahwa, ‘Ali telah tiba tapi tak mampu menghadap beliau. Segera nabi ke tempat ‘Ali lalu merangkulnya. Ketika melihat kaki ‘Ali membengkak, air mata Nabi menetes”.

Penduduk Yastrib – yang kemudian berganti menjadi nama Madinah – menyambut kedatangan Nabi. Mereka mengucapkan berbagai macam syair untuk menyambut manusia mulia ini. Disinilah manifestasi sebuah negara Islam pertama kali didirikan. Muhammad menyusun kekuatannya di Madinah bersama keluarga dan sahabat setianya yang rela meninggalkan tanah air dan hartanya untuk Tuhannya, islam yang muda ini menyusun kekuatan untuk menghadapi kekuatan kaum Quraisy yang setiap saat siap untuk menghancurkan Islam yang dibangun ini, perang demi perang mulai dari Badar, Uhud, Khandaq, yang disetiap perang tampillah Al-Washi Muhammad yang selalu menjadi pemberi moral kepada pasukan untuk menghancurkan kafir Quraisy dengan Iman yang membara. Pada perang Badar ‘al-washi (‘Ali) dan Hamzah tampil menghadapi pemberani kafir Quraisy, dalam sepucuk suratnya kepada Muawiyah, ‘Ali mengingatkannya dalam kata-kata ‘Pedang saya yang saya gunakan untuk membereskan kakek anda dari pihak ibu (Utbah, ayah dari Hindun Ibu Muawiyah), paman anda dari pihak Ibu (Walid bin Uthbah) dan saudara Anda (Hanzalah) masih ada pada saya. Pada perang Uhud Nabi dan lagi-lagi Hamzah dan ‘Ali tidak pernah Absen, ‘Ali adalah pembawa panji dalam setiap peperangan. Nabi mengungkapkan nilai pukulan ‘Ali pada perang Khandaq (parit) – disebut juga dengan Ahzab – kepada ‘Amar bin ‘Abdiwad itu,” Nilai pengorbanan itu melebihi segala perbuatan baik para pengikutku, karena sebagai akibat kekalahan jagoan kafir terbesar itu kaum Muslim menjadi terhormat dan kaum kafir menjadi aib dan terhina”.

V. Benteng Khaibar

Pada perang Khaibar ketika semangat kaum muslim mengendur dan merasa tidak mampu untuk menghancurkan benteng Khaibar, orang-orang menunggu dengan gelisah dan ketakutan, karena sebelumnya Abu Bakar dan Umar tidak ada yang mampu menghancurkan benteng, bahkan ‘Umar memuji keberanian pemimpin benteng, Marhab,yang luar biasa yang membuat Nabi dan para komandan Islam kecewa atas pernyataan ‘Umar ini.

Kebisuan orang-orang sedang menunggu dengan gelisah dipecahkan oleh kata-kata Nabi,” Dimanakah ‘Ali? “ Dikabarkan kepada beliau bahwa ‘Ali menderita sakit mata dan sedang beristirahat di suatu pojok. Nabi bersabda,” Panggil dia.” ‘Ali diangkut dengan unta dan diturunkan di depan kemah Nabi.” Pernyataan ini menunjukkan sakit matanya demikian serius sampai tak mampu berjalan. Nabi menggosokkan tangannya ke mata ‘Ali seraya mendoakannya. Mata ‘Ali langsung sembuh dan tak pernah sakit lagi sepanjang hidupnya. Nabi memerintahkan ‘Ali maju, menurut riwayat pintu benteng Khaibar itu terbuat dari batu, panjangnya 60 inci, dan lebarnya 30 inci. Mengutip kisah pencabutan pintu benteng Khaibar itu dari ‘Ali melalui jalur khusus,” Saya mencabut pintu Khaibar dan menggunakannya sebagai perisai. Seusai pertempuran, saya menggunakannya sebagai jembatan pada parit yang digali kaum Yahudi.” Seseorang bertanya kepadanya,” Apakah Anda merasakan beratnya?” ‘Ali menjawab,” Saya merasakannya sama berat dengan perisai saya.” Masih banyak lagi peristiwa-peristiwa lain selain peperangan untuk melawan kebejatan kaum kafir Quraisy, banyak juga peristiwa yang menggembirakan, misalnya peristiwa pernikahan al-Washi dan Fatimah, putri Nabi, perubahan kiblat dari Bait al-Maqdis ke Ka’bah di Makah. Selain serangan dari luar Kota Madinah, kaum Yahudi yang berada di dalam kota selalu mencoba melakukan rongrongan terhadap pemerintahan Islam yang masih muda ini, namun Sang Maha Konsep telah menentukan Drama yang berbeda, walaupun mereka mencoba memadamkan nur cahaya-Nya, namun Ia terus menerangi Nur Cahaya-Nya, walaupun orang-orang kafir itu benci.

VI. Fath Makkah

Tahun kedelapan Hijrah, perjanjian Hudaibiyah dikhianati oleh orang-orang Quraisy mekah, Nabi segera mengeluarkan perintah kesiagaan umum. Beliau siapkan pasukan besar yang belum pernah disaksikan kehebatannya selama ini. Ketika pasukan telah lengkap dan siap bergerak, Nabi pun menyampaikan bahwa sasarannya adalah Mekah. Pasukan bergerak laksana migrasi kawanan burung menuju arah selatan. Nabi memerintahkan kepada pasukannya yang berjumlah 10.000 orang untuk membagi diri, dan menyalakan api unggun di malam hari agar pasukan musuh melihat betapa besar pasukan musuh tersebut.

Di dekat kuburan Abu Tholib dan Khodijah yang terletak di punggung Mekah, kaum muslimin membuat kubah untuk Nabi. Dari kubah inilah Nabi mengamati dengan cermat arus pasukan Islam yang masuk ke kota dari empat penjuru.

Makkah… Membisu di depan Nabi dan pendukungnya. Ya Mekah membisu dan tidak lagi menyerukan teriakan Fir’aun-fir’aun, digantikan hiruk pikuk suara 10.000 prajurit Muslim yang menggema yang seakan-akan sedang menunggu kedatangan sahabatnya

Gua itu menatap kepada orang yang dulu berada dalam perutnya dalam keadaan terusir yang kini telah berdiri tegap dengan gagah dan dikelilingi puluhan ribu pengikut dan pembelanya.

Nabi memasuki Mekah dan bertawaf, menghancurkan berhala-berhala bersama al-Washi, tidak ada darah yang tertumpah. Orang-orang Quraisy yang berada di Makkah menunggu bibir Muhammad berucap tentang mereka, apakah yang akan terjadi pada mereka, namun bibir itu begitu mulia untuk menjatuhkan hukuman, ia memberikan kepada mereka yang telah memeranginya pengampunan dan beliau berkata “… Pergilah, Anda semua adalah orang-orang yang dibebaskan!”

Kini, di Shafa, laki-laki yang telah membuat sejarah itu telah kembali, berdiri di depan kehidupannya yang sarat dengan berbagai peristiwa dan yang ditangannya tergenggam masa depan yang gemilang. Selama dua puluh tahun penggembalaannya tak pernah henti, ia tak pernah merasakan letih, kesabarannya begitu tinggi, tak pernah menyerah. Orang –orang Quraisy berdesak-desakkan di bukit Shafa untuk memberikan Ba’iat.

Setelah penaklukan Mekah masih ada beberapa peperangan besar berlanjut – semasa hidup Nabi – yaitu Hunain, Tabuk. Al-Washi tampil dengan gagah perkasa dalam peperangan ini, sesudah membuat kocar-kacir musuh, al-washi segera menghambur untuk bergabung dengan Nabi, ia memutari Nabi, dan menghambur membabat musuh untuk melindungi Nabi, dan pada kali yang lain menemui prajurit musuh yang lari dan menghadang kejaran musuh. Sesudah itu kembali memutari Nabi. Nabi memanggil sahabat-sahabatnya yang lari cerai-berai “ Ayyuhan Nas, mau kemana kalian ?” Wahai orang-orang yang ikut bai’at al-Ridwan! Wahai, orang-orang yang kepadanya diturunkan surat Al-Baqarah! Wahai orang-orang yang berbaiat di bawah pohon…! orang-orang Madinah yang gagah berani segera sadar akan diri mereka! Dan ingat bahwa hingga saat ini mereka adalah tulang punggung Nabi. Kini Nabi memanggil mereka di tengah 12.000 orang prajurit, dua ribu diantaranya adalah kaum kerabatnya. Mereka segera menghambur ke arah Nabi menyambut panggilannya dengan, “Labbaik, Labbaik… Kami datang, kami datang…!”

Pasukan Islam kembali memenangkan pertempuran, peran individual Muhammad dalam menyampaikan risalah agungnya telah selesai, dan kini – tidak bisa – tidak di harus melihat pasukannya, untuk kesekian kalinya, mengingat dan mengenang kembali pelajaran yang telah diberikannya selama dua puluh tiga tahun, agar di bisa mengevaluasidan menelitinya kembali.

VII. Haji Wada

Tahun kesebelas Hijrah, haji pertama Nabi dan kaum Muslimin tanpa ada seorang musrik pun yang ikut didalamnya, untuk pertama kalinya pula, lebih dari 10.000 orang berkumpul di Madinah dan sekitarnya, menyertai Nabi melakukan perjalanan ke Makkah, dan .. sekaligus inilah haji terakhir yang dilakukan oleh Nabi. Rombongan haji meninggalkan Madinah tanggal 25 Dzulqa’idah , Nabi disertai semua isterinya, menginap satu malam di Dzi Al-Hulaifah, kemudian melakukan Ihram sepanjang Subuh, dan mulai bergerak… seluruh padang terisi gema suara mereka yang mengucapkan,”Labbaik, Allahumma labaik… Labbaik, la syarika laka, ! Aku datang memenuhi panggilanmu, Allahumma, ya Allah, aku datang memenuhi panggilan-Mu. Tiada sekutu bagi-Mu…Labbaik, aku datang memenuhi panggilan-Mu. Segala puji, kenikmatan, dan kemaharajaan, hanya bagi-Mu. Tiada sekutu bagi-Mu… Labbaik, aku datang memenuhi panggilan-Mu…” Langit, hingga hari itu, belum pernah menyaksikan pemandangan di muka bumi seperti yang ada pada saat itu. Lebih dari 100.000 orang, laki-laki dan perempuan – dibawah sengatan Matahari yang amat terik dan di padang pasir yang sebelumnya tak pernah dikenal orang – bergerak menuju satu arah. Medan ini merupakan lukisan paling indah dari satu warna yang menghiasi kehidupan manusia. Dan sejarah, adalah kakek tua yang terbelenggu dalam pengabdian terhadap kepentingan-kepentingan. Ia adalah tukang cerita yang membacakan hikayat-hikayat Fir’aun, Kisra dan Kaisar. Sejarah sekali melihat Muhammad dan orang-orang yang bergerak bersamanya dengan heran! Aneh sekali. Pasukan apa ini? Komandan berjalan kaki kelelahan, dan pengikut-pengikutnya pun demikian pula. Nabi memang berjalan kaki bersama umatnya. Sejarah memang mendengar bahwa “penguasa” itu berada di tengah-tengah pasukan itu, tapi ketika dicari-carinya, dia tak bisa menemukannya. Rombongan itu masuk Mekah 4 Dzulhijjah, disitu telah berkumpul Allah, Ibrahim, Ka’bah dan Muhammad. Dia juga ingin memperlihatkan kepada Ibrahim, bahwa karya besarnya, kita sudah diantarkan kepada Maksud.

Matahari tepat di tengah siang hari itu. Seakan-akan ia menumpahkan seluruh cahayannya yang memakar ke atas kepala semua orang. Nabi berdiri di depan lebih dari 100.000 orang. Laki-laki dan perempuan yang mengelilinginya. Nabi memulai pidatonya, Rosulullah berkata,”Tahukah kalian, bulan apa ini ?”

Mereka serentak menjawab,”Bulan Haram!” …..

…”Ayyuhan Nas, camkan baik-baik perkataanku. Sebab, aku tidak tahu, mungkin aku tidak lagi akan bertemu dengan kalian sesudah tahun ini, di tempat ini, untuk selama-lamanya… Ayyuhan Nas, sesungguhnya darah dan hartamu adalah haram bagimu hingga kalian menemui Tuhanmu sebagaimana diharamkannya hari dan bulanmu ini. Sesudah itu, kamu sekalian akan menemui Tuhanmu dan ditanya tentang amal-amalmu. Sungguh, aku telah sampaikan hal ini. Maka, barangsiapa yang masih mempunyai amanat, hendaknya segera disampaikan kepada orang yang berhak menerimanya…..”

Akar-akar syirik telah dihapuskan dari Mekah, dan Mekah menjadi sebuah kota suci bagi kaum muslim, tempat berkumpulnya muslimin dari seluruh penjuru dunia, dengan menggunakan pakaian yang sama, menuju Tuhannya, tidak ada perbedaan, baik kaya, miskin, raja, rakyat, semuanya sama dihadapan Tuhan, yang membedakannya adalah takwa.

Muhammad telah melaksanakan tugasnya, dan sekarang beliau berada di pembaringan, Nabi membuka mata seraya berkata kepada putrinya dengan suara pelan “Muhammad tidak lain hanyalah seorang Rosul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rosul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu akan berbalik ke belakang? Barangsiapa berpaling ke belakang, maka tidak akan mendatangkan mudarat kepada Allah sedikitpun; dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur”.[Petikan dari laman.

SEKILAS TENTANG ISLAM DIMASA LALU

MUHAMMAD, 'alaihi'sh-shalatu wassalam.

Dengan nama yang begitu  mulia,  jutaan  bibir  setiap  hari
mengucapkannya,   jutaan   jantung  setiap  saat  berdenyut,
berulang kali. Bibir dan jantung yang bergerak dan berdenyut
sejak  seribu  tiga  ratus limapuluh tahun. Dengan nama yang
begitu mulia, berjuta bibir akan terus mengucapkan,  berjuta
jantung akan terus berdenyut, sampai akhir zaman

Pada    setiap    hari    di    kala    fajar   menyingsing,
lingkaran-lingkaran putih di ufuk sana mulai  nampak  hendak
menghalau   kegelapan  malam,  ketika  itu  seorang  muazzin
bangkit, berseru kepada setiap makhluk insani, bahwa  bangun
bersembahyang  lebih  baik daripada terus tidur. Ia mengajak
mereka  bersujud  kepada   Allah,   membaca   selawat   buat
Rasulullah.

Seruan  ini  disambut  oleh ribuan, oleh jutaan umat manusia
dari segenap penjuru  bumi,  menyemarakkannya  dengan  salat
menyambut pahala dan rahmat Allah bersamaan dengan terbitnya
hari  baru.  Dan  bila  hari  siang,  mataharipun  berangkat
pulang,  kini muazzin bangkit menyerukan orang bersembahyang
lohor, lalu salat asar, magrib, isya. Pada setiap kali dalam
sembahyang  ini  mereka menyebut Muhammad, hamba Allah, Nabi
dan RasulNya itu, dengan penuh permohonan, penuh  kerendahan
hati   dan   syahdu.   Dan  selama  mereka  dalam  rangkaian
sembahyang lima waktu itu, bergetar jantung mereka  menyebut
asma  Allah  dan menyebut nama Rasulullah. Begitulah mereka,
dan akan begitu mereka, setelah Allah  memperlihatkan  agama
yang sebenarnya ini dan melimpahkan nikmatNya kepada seluruh
umat manusia.

LINGKUNGAN KEKUASAAN ISLAM YANG PERTAMA

Tidak  banyak   waktu   yang   diperlukan   Muhammad   dalam
menyampaikan  ajaran  agama,  dalam  menyebarkan panjinya ke
penjuru dunia. Sebelum wafatnya, Allah telah  menyempurnakan
agama  ini  bagi  kaum  Muslimin. Dalam pada itu iapun telah
meletakkan landasan penyebaran agama  itu:  dikirimnya  misi
kepada  Kisra1,  kepada  Heraklius  dan kepada raja-raja dan
penguasa-penguasa lain supaya mereka  sudi  menerima  Islam.
Tak  sampai  seratus  limapuluh  tahun  sesudah itu, bendera
Islampun sudah berkibar sampai ke Andalusia di Eropa sebelah
barat,  ke  India,  Turkestan,  sampai  ke  Tiongkok di Asia
Timur, juga telah sampai ke Syam (meliputi  Suria,  Libanon,
Yordania   dan   Palestina   sekarang),   Irak,  Persia  dan
Afganistan, yang semuanya sudah menerima Islam.  Selanjutnya
negeri-negeri  Arab  dan  kerajaan  Arab,  sampai  ke Mesir,
Cyrenaica, Tunisia, Aljazair, Marokko,  -sekitar  Eropa  dan
Afrika-  telah dicapai oleh misi Muhammad 'alaihissalam. Dan
sejak waktu itu sampai masa kita  sekarang  ini  panji-panji
Islam  tetap  berkibar  di semua daerah itu, kecuali Spanyol
yang kemudian diserang oleh Kristen dan penduduknya  disiksa
dengan  bermacam-macam  cara  kekerasan.  Tidak  tahan  lagi
mereka hidup. Ada di antara mereka yang kembali  ke  Afrika,
ada  pula  yang  karena  takut  dan  ancaman, berbalik agama
berpindah dari agama asalnya kepada agama  kaum  tiran  yang
menyiksanya.

Hanya  saja  apa  yang  telah  diderita  Islam  di Andalusia
sebelah barat Eropa  itu  ada  juga  gantinya  tatkala  kaum
Usmani  (Turki)  memasukkan dan memperkuat agama Muhammad di
Konstantinopel.  Dari  sanalah  ajaran  Islam  itu  kemudian
menyebar  ke  Balkan,  dan  memercik pula sinarnya sampai ke
Rusia dan Polandia sehingga  berkibarnya  panji-panji  Islam
itu berlipat ganda luasnya daripada yang di Spanyol.

Sejak  dari  semula Islam tersebar hingga masa kita sekarang
ini  memang  belum   ada   agama-agama   lain   yang   dapat
mengalahkannya.  Dan  kalaupun ada di antara umat Islam yang
ditaklukkan,  itu  hanya  karena   adanya   berbagai   macam
kekerasan,  kekejaman  dan despotisma, yang sebenarnya malah
menambah kekuatan iman mereka  kepada  Allah,  kepada  hukum
Islam, dengan memohonkan rahmat dan ampunan daripadaNya.

ISLAM DAN NASRANI

Kekuatan  inilah  yang telah menyebabkan Islam itu tersebar,
telah dikonfrontasikan langsung dengan  pihak  Nasrani  yang
menghadapinya  dengan  sikap  permusuhan yang sengit sekali.
Muhammad telah berhasil melawan  paganisma  dan  mengikisnya
dari   negeri-negeri   Arab,   seperti  juga  yang  kemudian
dilakukan oleh para penggantinya yang mula-mula, di  Persia,
di   Afganistan   dan   tidak   sedikit   pula   di   India.
Pengganti-pengganti Muhammad telah  dapat  juga  mengalahkan
kaum  Nasrani  di  Hira, di Yaman, Syam, Mesir dan sampai ke
pusat Nasrani sendiri di Konstantinopel.

Seperti halnya dengan paganisma, adakah juga terhadap  agama
Nasrani akan senasib mengalami kelenyapan sebagai salah satu
agama Kitab yang juga dihormati oleh Muhammad dan yang  juga
mendapat wahyu melalui Nabinya? Adakah orang-orang Arab itu,
Arab pedalaman yang datang  merantau  dari  pelosok  jazirah
padang  pasir  yang gersang, akan ditakdirkan juga menguasai
taman-taman Andalusia, Bizantium  dan  daerah-daerah  Masehi
lainnya?  Lebih baik mati daripada itu. Selama beberapa abad
terus-menerus    antara    pengikut-pengikut     Isa     dan
pengikut-pengikut  Muhammad  telah  terjadi  peperangan yang
terus-menerus. Dan peperangan itu tidak terbatas pada pedang
dan   meriam   saja,   malah   juga   diteruskan  sampai  ke
bidang-bidang  perdebatan  dan  pertentangan  teologis  yang
dibawa  oleh  pejuang-pejuang  itu,  masing-masing atas nama
Muhammad dan atas  nama  Isa,  masing-masing  mencari  jalan
mempengaruhi umum dan beragitasi membangkitkan fanatisma dan
semangat rakyat jelata

KAUM MUSLIMIN DAN ISA

Akan  tetapi  Islam  melarang  kaum   Muslimin   merendahkan
kedudukan  Isa - karena dia hamba Allah yang diberiNya kitab
dan dijadikanNya seorang nabi, dijadikanNya  ia  orang  yang
beroleh  berkah  di  mana pun ia berada, diperintahkanNya ia
melakukan sembahyang, mengeluarkan  zakat  selama  ia  masih
hidup,  dijadikanNya  ia  orang yang berbakti kepada ibunya,
dan tidak pula  dijadikan  orang  yang  pongah  dan  celaka.
Bahagia  ia tatkala dilahirkan, tatkala ia wafat dan tatkala
ia dibangkitkan hidup kembali.

ORANG-ORANG KRISTEN YANG FANATIK DAN MUHAMMAD

Sedang dari pihak kaum Masehi, banyak di antara  mereka  itu
yang   menyindir-nyindir   Muhammad  dan  menilainya  dengan
sifat-sifat  yang  tidak   mungkin   dilakukan   oleh   kaum
terpelajar  -  untuk  melampiaskan  rasa  kebencian yang ada
dalam  hati  mereka  serta  beragitasi  membangkitkan  emosi
orang.  Meskipun  ada dikatakan bahwa perang salib itu sudah
berakhir sejak ratusan  tahun  yang  lalu,  namun  fanatisma
gereja  Kristen  terhadap Muhammad mencapai puncaknya sampai
pada waktu-waktu belakangan ini. Dan barangkali masih  tetap
demikian   kalau   tidak  akan  dikatakan  malah  bertambah,
sekalipun dilakukan  dengan  sembunyi-sembunyi,  berselubung
misi  dengan  pelbagai  macam  cara.  Hal ini tidak terbatas
hanya  pada  gereja   saja   bahkan   sampai   juga   kepada
penulis-penulis  dan ahli-ahli pikir Eropa dan Amerika, yang
dapat dikatakan  tidak  seberapa  hubungannya  dengan  pihak
gereja.

Bisa   jadi  orang  merasa  heran  bahwa  fanatisma  Kristen
terhadap Islam masih begitu  keras  pada  suatu  zaman  yang
diduga  adalah  zaman cerah dan zaman ilmu pengetahuan, yang
berarti juga zaman toleransi dan kelapangan dada. Dan  orang
akan  lebih  heran lagi apabila mengingat kaum Muslimin yang
mula-mula, betapa mereka merasa gembira  melihat  kemenangan
kaum  Kristen begitu besar terhadap kaum Majusi (Mazdaisma),
melihat kemenangan  pasukan  Heraklius  merebut  panji-panji
Persia  dan dapat melumpuhkan tentara Kisra. Masa itu Persia
adalah yang memegang tampuk pimpinan di seluruh jazirah Arab
bagian  selatan,  sesudah Kisra dapat mengusir Abisinia dari
Yaman. Kemudian Kisra mengerahkan pasukannya  -  pada  tahun
614  -  di  bawah  salah  seorang  panglimanya  yang bernama
Syahravaraz2 untuk menyerbu Rumawi, dan dapat mengalahkannya
ketika  berhadap-hadapan  di Adhri'at3 dan di Bushra4, tidak
jauh dari Syam ke negeri Arab. Mereka banyak yang  terbunuh,
kota-kota mereka dihancurkan, kebun-kebun zaitun dirusak.

Pada  waktu  itu  Arab - terutama penduduk Mekah - mengikuti
berita-berita  perang  itu  dengan  penuh  perhatian.  Kedua
kekuatan  yang  sedang  bertarung  itu  merupakan  peristiwa
terbesar  yang  pernah  dikenal   dunia   pada   masa   itu.
Negeri-negeri  Arab ketika itu menjadi tetangga-tetangganya.
Sebahagian berada di bawah kekuasaan Persia, dan  sebahagian
lagi  berbatasan  dengan  Rumawi.  Orang-orang  kafir  Mekah
bergembira sekali melihat kekalahan kaum Kristen itu;  sebab
mereka   juga  Ahli  Kitab  seperti  kaum  Muslimin.  Mereka
berusaha mengaitkan tercemarnya kekalahan Kristen itu dengan
agama kaum Muslimin.

Sebaliknya  pihak  Muslimin merasa sedih sekali karena pihak
Rumawi  juga  Ahli  Kitab  seperti  mereka.   Muhammad   dan
sahabat-sahabatnya   tidak   mengharapkan  kemenangan  pihak
Majusi dalam melawan Kristen. Perselisihan kaum Muslimin dan
kaum   kafir  Mekah  ini  sampai  menimbulkan  sikap  saling
berbantah dari kedua belah  pihak.  Kaum  kafirnya  mengejek
kaum   Muslimin,  sampai  ada  di  antara  mereka  itu  yang
menyatakan kegembiraannya di depan Abu Bakrf dan Abu Bakrpun
sampai  marah dengan mengatakan: Jangan lekas-lekas gembira;
pihak Rumawi akan mengadakan pembalasan.

Abu Bakr adalah orang yang terkenal tenang dan lembut  hati.
Mendengar  jawaban itu pihak kafir membalasnya dengan ejekan
pula: Engkau pembohong.  Abu  Bakr  marah:  Engkaulah  musuh
Tuhan  yang  pembohong!  Hal  ini  disertai  dengan  taruhan
sepuluh ekor unta bahwa pihak Rumawi akan  mengalahkan  kaum
Majusi  dalam  waktu  setahun.  Muhammad  mengetahui  adanya
peristiwa taruhan ini, lalu dinasehatinya Abu  Bakr,  supaya
taruhan  itu ditambah dan waktunyapun diperpanjang. Abu Bakr
memperbanyak jumlah  taruhannya  sampai  seratus  ekor  unta
dengan  ketentuan,  bahwa Persia akan dapat dikalahkan dalam
waktu kurang dari sembilan tahun.

Dalam tahun 625  ternyata  Heraklius  menang  melawan  pihak
Persia.  Syam  direbutnya  kembali  dan  Salib  Besar  dapat
diambil lagi. Dalam taruhan ini Abu Bakrpun menang.  Sebagai
nubuat  atas  kemenagan ini firman Tuhan turun seperti dalam
awal Surah ar-Rum: "Alif- Lam. Mim.  Kerajaan  Rumawi  telah
dikalahkan.   Di   negeri   terdekat.  Dan  mereka,  sesudah
kekalahan itu,  akan  mendapat  kemenangan.  Dalam  beberapa
tahun saja. Di tangan Tuhan keputusan itu. Pada masa lampau,
dan masa akan datang. Pada hari itu orang-orang beriman akan
bergembira. Dengan pertolongan Allah; Ia menolong siapa yang
dikehendakiNya. Maha  Mulia  Ia  dalam  Kekuasaan  dan  Maha
Penyayang.  Demikian  janji  Allah.  Allah  takkan menyalahi
janjiNya. Tetapi  kebanyakan  orang  tidak  mengerti."  (QS,
30:1-6)

Besar  sekali  kegembiraan  kaum  Muslimin  atas  kemenangan
Heraklius dan kaum Nasrani itu. Hubungan persaudaraan antara
mereka  yang  menjadi  pengikut  Muhammad  dan  mereka  yang
percaya  kepada  Isa,  selama  hidup  Nabi,  besar   sekali,
meskipun  antara  keduanya sering terjadi perdebatan. Tetapi
tidak demikian halnya kaum  Muslimin  dengan  pihak  Yahudi,
yang  pada mulanya bersikap damai, lambat-laun telah menjadi
permusuhan yang  berlarut-larut,  yang  sampai  meninggalkan
bekas  berdarah  dan  membawa  akibat  keluarnya orang-orang
Yahudi dari seluruh jazirah Arab.  Kebenaran  atas  kejadian
ini  ialah  firman  Tuhan: "Pasti akan kaudapati orang-orang
yang  paling  keras  memusuhi  mereka  yang  beriman   ialah
orang-orang  Yahudi  dan orang-orang musyrik; dan pasti akan
kaudapati orang-orang yang paling  akrab  bersahabat  dengan
mereka  yang  beriman  ialah  mereka yang berkata: 'Kami ini
orang-orang Nasrani.' Sebab, di antara mereka terdapat  kaum
pendeta  dan rahib-rahib, dan mereka itu tidak menyombongkan
diri." (QS, 5:82)
DASAR-DASAR YANG SEDERHANA DALAM KEDUA AGAMA

Kemudian kita melihat kedua  agama  ini  mempunyai  konsepsi
tentang hidup dan akhlak yang dapat dikatakan sama. Keduanya
memandang manusia dan awal  mula  penjadiannya  sama:  Allah
menciptakan  Adam  dan  Hawa  dan keduanya ditempatkan dalam
surga, kemudian diwahyukan jangan mereka mendengarkan godaan
setan.  Tetapi mereka makan juga (buah) dari pohon itu, maka
merekapun keluar dari  surga.  Setan  yang  tak  mau  tunduk
kepada  Adam,  adalah  musuh mereka - sebagaimana diwahyukan
Allah kepada  Muhammad  -  dan  yang  tidak  mau  menyucikan
kalimat  Allah, menurut kitab-kitab SUCI kaum Nasrani. Setan
memperdayakan Hawa dan membujuknya.  Lalu  Hawapun  membujuk
Adam  dan  keduanya  sama-sama  makan  dari Pohon Abadi itu.
Karena itu, maka tampaklah  aurat  mereka.  Merekapun  minta
ampun  kepada  Tuhan  dan  Tuhan mengirimkan mereka ke bumi,
yang  akan  jadi  saling  bermusuhan  di   antara   sebagian
keturunan mereka, dan yang akan diperdayakan setan, sehingga
akan ada golongan yang sesat dan ada pula yang akan  melawan
kehancuran itu.

Untuk memperkuat perjuangan manusia melawan godaan dosa itu,
Tuhan telah mengutus Nuh, Ibrahim, Musa, Isa  dan  nabi-nabi
yang lain, dan kepada setiap rasul itu disertakan pula kitab
(wahyu) menurut bahasa masyarakat lingkungan guna memperkuat
apa  yang  datang  dari  Tuhan dan memberi penerangan kepada
mereka. Sebagaimana juga di pihak  setan  ada  barisan  yang
membela  nafsu  kejahatan,  juga  para  malaikat  memuja dan
menguduskan kesucian Tuhan. Masing-masing mereka itu  saling
berselisih   menghadapi  hidup  dan  alam  ini  sampai  Hari
Kebangkitan, tatkala setiap jiwa kelak akan memperoleh hasil
sesuai dengan apa yang dikerjakannya, dan takkan ada seorang
teman akrabpun yang sudi menanyakan teman lainnya.

PERBEDAAN TAUHID DAN TRINITAS

Akan kita lihat dalam Qur'an yang telah menyebutkan Isa  dan
Mariam  dengan  penghormatan serta penghargaan yang demikian
rupa dari Tuhan sehingga kitapun karenanya turut  bersimpati
pula,  terbawa  oleh  rasa  persaudaraan.  Tetapi  apa  yang
menyebabkan kita lalu bertanya?: Kalau begitu,  kenapa  kaum
Muslimin  dan  Kristen  selama berabad-abad terus bermusuhan
dan berperang? Jawaban  atas  pertanyaan  ini  ialah,  bahwa
antara   ajaran-ajaran   Islam   dan  Kristen  itu  terdapat
perbedaan asasi yang menjadi suatu  sebab  perdebatan  hebat
semasa  Nabi, sekalipun perdebatan demikian itu tidak sampai
melampaui batas permusuhan dan kebencian. Kaum Kristen tidak
mengakui  kenabian  Muhammad  seperti  Islam  yang  mengakui
kenabian Isa; Kristen berlandaskan  Trinitas,  sedang  Islam
samasekali  menolak,  selain Tauhid. Kaum Kristen menuhankan
Isa, dan berpegang pada argumentasi ketuhanannya  itu  bahwa
dia   sudah   berbicara   sejak   di   dalam   buaian  serta
memperlihatkan mujizat-mujizat yang tak dapat dilakukan oleh
yang  lain;  suatu hal yang sebenarnya hanya dapat dilakukan
oleh Tuhan.

KAUM NASRANI MENGAJAK NABI BERDEBAT

Pada masa permulaan  Islam  mereka  mendebat  kaum  Muslimin
tentang   itu  dengan  menggunakan  Quran,  dengan  berkata:
Bukankah Quran yang diturunkan kepada Muhammad itu  mengakui
pendapat  kami  ketika  berkata:  "Dan tatkala para malaikat
berkata: 'Aduhai Mariam, Tuhan menyampaikan  berita  gembira
kepadamu  dengan  Firman  Tuhan:  namanya  Isa al Masih anak
Mariam,  orang  terpandang  di  dunia  dan  di  akhirat  dan
termasuk  orang yang dekat (kepada Tuhan). Ia akan berbicara
dengan orang semasa ia anak-anak dan sesudah dewasa  dan  ia
tergolong  orang yang baik-baik.' Kata (Mariam)-nya: 'Tuhan,
dari mana saya akan mendapatkan anak, padahal tak ada  orang
yang  menyentuhku.'  Ia  (Tuhan)  berkata: 'Begitulah, Tuhan
mencipta menurut kehendakNya. Jika ia memutuskan sesuatu, Ia
hanya  berkata: Jadilah, maka iapun jadi. Dan ia mengajarkan
Kitab kepadanya, hikmah kebijaksanaan, Taurat dan Injil. Dan
ia  diutus  menjadi  Rasul bagi Keluarga Israil: 'Aku datang
kepadamu membawa sebuah Bukti dari Tuhanmu. Kuciptakan  dari
tanah  liat  bentuk serupa burung. Kutiup ia lalu ia menjadi
seekor burung dengan ijin Allah, dan aku dapat  menyembuhkan
orang  buta  dan  berpenyakit kusta serta menghidupkan orang
mati dengan ijin Allah. Akupun dapat memberitahukan kepadamu
apa  yang kamu makan dan apa yang kamu simpan dalam rumahmu.
Itulah  suatu  bukti  bagimu  bila  kamu  orang-orang   yang
beriman." (QS, 3:45-49)

Jadi  Qur'an  menegaskan,  bahwa ia menghidupkan orang mati,
menyembuhkan orang buta asal  dari  kelahiran,  menyembuhkan
kusta,  dan  dari  segumpal tanah dijadikannya seekor burung
dan dapat membuat ramalan dan  semua  ini  adalah  merupakan
sifat-sifat  Ilahiah.  Inilah  pandangan  kaum  Nasrani masa
Nabi,  yang   dijadikan   mereka   bahan   argumentasi   dan
mengajaknya  berdebat dengan pendirian, bahwa Isa juga Tuhan
di samping Allah. Dan ada lagi segolongan  mereka  itu  yang
berpendirian menuhankan Mariam karena Allah telah menurunkan
SabdaNya kepadanya. Pendirian  kaum  Nasrani  yang  demikian
pada  masa  itu  menganggap  Mariam  satu  dari  tiga  dalam
Trinitas Bapa, Anak dan Ruh Kudus. Mereka yang  berpendirian
dengan  menuhankan  Isa  dan ibunya itu hanya merupakan satu
sekte  dari   sekian   banyak   sekte-sekte   Nasrani   yang
bermacam-macam dan terpencar-pencar itu.

Orang-orang  Nasrani  seluruh  jazirah Arab dengan alirannya
yang bermacam-macam itu mengajak Muhammad  berdebat  menurut
dasar  mazhab  mereka.  Kata mereka Almasih itu ialah Allah,
dia anak Allah; kata mereka dia adalah satu dari tiga  dalam
Trinitas.  Mereka  yang  berpendapat  pada ketuhanan Isa itu
berpegang  pada  argumentasi  yang   disebutkan   di   atas.
Argumentasi  yang  mengatakan  bahwa  dia  anak Allah, sebab
bapanya tidak  diketahui  orang,  dan  dia  berbicara  dalam
buaian  semasa  anak-anak,  yang  tak  pernah  terjadi  pada
siapapun dari anak Adam. Argumentasi yang  mengatakan  bahwa
dia satu dari tiga dalam Trinitas, sebab Allah berkata: Kami
perintahkan, Kami jadikan dan  Kami  tentukan.  Kalau  hanya
Satu  tentu  berkata:  Aku  perintahkan, Aku jadikan dan Aku
tentukan. Muhammad mendengarkan semua tanggapan mereka  itu,
dan  mengajaknya  berdiskusi  dengan  cara  yang lebih baik.
Dalam perdebatan itu ia tidak begitu keras seperti  terhadap
kaum  musyrik  dan  penyembah berhala. Bahkan dikemukakannya
argumen itu berdasarkan wahyu dengan  cara  yang  logis  dan
sebagaimana yang diterangkan dalam kitab-kitab mereka. Allah
berfirman: "Sebenarnya  mereka  telah  melakukan  penghinaan
(terhadap  Tuhan), mereka yang mengatakan, bahwa Allah ialah
Isa al-Masih  anak  Mariam.  Katakan:  Siapakah  yang  dapat
merintangi  jika Ia hendak membinasakan al-Masih anak Mariam
serta ibunya dan setiap orang yang  ada  di  muka  bumi  ini
semua?  Kerajaan  langit  dan  bumi serta segala yang ada di
antara itu, adalah milik Allah. Ia menciptakan apa yang  ada
di   antara  itu,  dan  Allah  Maha  Kuasa  atas  segalanya.
Orang-orang  Yahudi  dan  Nasrani   berkata:   Kami   adalah
anak-anak  Allah  dan  yang dicintaiNya. Katakan: Mengapa Ia
menyiksamu  karena  dosa-dosamu  itu?   Sebenarnya   kamupun
manusia,  seperti  yang  pernah diciptakanNya. Ia mengampuni
siapa saja yang dikehendakiNya dan Ia menghukum  siapa  saja
yang  dikehendakiNya.  Kerajaan langit dan bumi serta segala
yang ada di antara itu, adalah milik Allah. Dan kepadaNyalah
kembali sebagai tujuan terakhir." (QS, 5:17-18)

"Sebenarnya  mereka  telah  melakukan  penghinaan  (terhadap
Tuhan), mereka yang mengatakan,  bahwa  Allah  itu  al-Masih
anak  Mariam. Bahkan al-Masih berkata: Hai anak-anak Israil,
sembahlah   Allah,   Tuhanku   dan   Tuhanmu.    Barangsiapa
mempersekutukan Allah, Allah akan mengharamkan surga baginya
dan tempatnya adalah api neraka. Orang-orang  teraniaya  itu
takkan  punya  pembela.  Sebenarnya  mereka  telah melakukan
penghinaan (terhadap Tuhan) mereka  yang  mengatakan,  bahwa
Allah  adalah  satu  dari tiga dalam Trinitas. Tak ada tuhan
kecuali Tuhan Yang  Satu.  Apabila  tidak  mau  juga  mereka
berhenti   (menghina   Tuhan),   pasti   mereka  yang  telah
merendahkan  (Tuhan),  itu  akan   dijatuhi   siksaan   yang
memedihkan." (QS, 5:72-73)

"Dan  ingat  ketika  Allah  berkata:  Hai  Isa  anak Mariam!
Engkaukah yang mengatakan  kepada  orang:  mengangkatku  dan
ibuku sebagai dua tuhan selain Allah? Ia menjawab: Maha Suci
Engkau, tidak akan aku mengatakan yang bukan menjadi  hakku.
Kalaupun    aku    mengatakannya,    tentu    Engkau   sudah
mengetahuinya. Engkau mengetahui apa yang ada dalam  hatiku,
tapi aku tidak mengetahui apa yang ada di dalam Dirimu. Maha
Mengetahui Engkau  atas  segala  yang  gaib.  Tak  ada  yang
kukatakan kepada mereka, selain daripada yang Kauperintahkan
kepadaku;  supaya  mereka  menyembah  Allah,   Tuhanku   dan
Tuhanmu,  dan  akulah  saksi  mereka  selama  aku  berada di
tengah-.engah mereka. Tetapi setelah Kauwafatkan aku, Engkau
Pengawas  mereka  dan  Engkau  pula  yang menyaksikan segala
sesuatu.  Kalau   Engkau   siksa   mereka,   mereka   adalah
hamba-hambaMu,   kalaupun   Engkau   ampuni  mereka,  Engkau
Penguasa Maha Mulia dan Bijaksana." (QS, 5:116-118)

Pandangan Nasrani adalah Trinitas dan Isa adalah anak Allah.
Sedangkan  Islam  menolak  semua  itu  dengan  tegas sekali,
menolak bahwa Tuhan mempunyai  anak.  "Katakan:  'Allah  itu
Satu.  Allah  itu  abadi dan mutlak. Tidak beranak dan tidak
diperanakkan. Dan tiada satu apa pun  yang  menyerupai-Nya."
(QS,  112:1-4)  "Tidak  sepatutnya bagi Allah akan mengambil
anak. Maha Suci Ia." (QS, 19:35) "Hal seperti  terhadap  Isa
bagi Allah sama seperti terhadap Adam; dijadikan-Nya ia dari
tanah lalu dikatakan: jadilah, maka jadilah ia." (QS, 3:59)

Pada dasarnya Islam adalah agama  Tauhid,  dalam  pengertian
Tauhid  yang  murni  dan  kuat  sekali, dan dalam pengertian
Tauhid yang sederhana dan jelas sekali.  Setiap  kemungkinan
yang  akan  mengaburkan pengertian dan pikiran Tauhid, Islam
tegas menolaknya dan menganggapnya kufur. "Allah tidak  akan
mengampuni  bila  Dia dipersekutukan. Tetapi selain itu akan
diampuniNya siapa saja yang dikehendakiNya." (QS, 4:48)

Bagaimanapun konsepsi Masehi tentang Trinitas,  yang  memang
mempunyai hubungan sejarah dengan beberapa agama lama, namun
bagi Muhammad itu sama sekali bukan  suatu  kebenaran.  Yang
benar  ialah  Allah  itu Esa, tidak bersekutu, tidak beranak
dan  tidak   diperanakkan,   dan   tak   ada   apapun   yang
menyerupaiNya. Jadi tidak heran kalau antara Muhammad dengan
pihak Nasrani masa itu  terjadi  diskusi  dengan  cara  yang
baik,   dan   wahyupun  memperkuat  Muhammad  seperti  dalam
ayat-ayat itu.



MASALAH PENYALIBAN AL-MASIH
 
Masalah lain yang menimbulkan perbedaan pendapat  Islam  dan
Nasrani,  dan  menjadi puncak perdebatan antara dua golongan
itu pada masa  Nabi,  ialah  masalah  penyaliban  Isa  untuk
menebus dosa orang dengan darahnya. Secara tegas Quran telah
membantah bahwa orang-orang  Yahudi  membunuh  dan  menyalib
Isa.  "Dan  perkataan  mereka  bahwa:  kami  telah  membunuh
Almasih Isa anak Mariam - Utusan Allah. Tetapi mereka  tidak
membunuhnya   dan   tidak   menyalibnya,   melainkan  begitu
terbayang pada mereka.  Dan  mereka  yang  masih  berselisih
pendapat  tentang  itu  sebenarnya masih ragu, sebab tak ada
pengetahuan mereka tentang itu, selain berdasarkan prasangka
saja,  dan  merekapun  tidak yakin telah membunuhnya. Bahkan
Allah telah mengangkatnya kepadaNya.  Maha  Mulia  Kekuasaan
Allah dan Bijaksana." (QS, 4:157-148)
 
Kalaupun  konsepsi  tentang  penebusan  dosa  anak-cucu Adam
dengan darah Isa memang indah sekali, dan apa  yang  ditulis
orang  tentang  itu  patut  menjadi  bahan studi dari segala
seginya, baik literair, etika atau psikologi, namun  prinsip
yang  telah  ditentukan  Islam, bahwa orang tidak dibenarkan
memikul beban dosa orang lain, dan bahwa setiap  orang  pada
hari kemudian diganjar sesuai dengan perbuatannya - kalau ia
berbuat baik dibalas dengan kebaikan,  kalau  jahat  dibalas
dengan kejahatan - menyebabkan pendekatan logis antara kedua
ajaran ini  tidak  mungkin.  Di  sini  logika  Islam  sangat
konkrit, sehingga tak ada gunanya usaha mencari persesuaian,
melihat garis perbedaan yang begitu  tajam  antara  konsepsi
penebusan dan konsepsi hukum yang bersifat pribadi. "Seorang
bapa  takkan  dapat  menolong  anaknya,  dan  anakpun  tiada
sedikit juga akan dapat menolong bapanya." (QS, 31:33)
 
Tentang  agama  baru ini, sudah adakah dari kalangan Nasrani
ketika itu yang mau memikirkannya, serta melihat kemungkinan
bertemunya  konsepsi  Tauhid  dengan  ajaran yang dibawa Isa
itu? Ya, memang ada, dan banyak di antara  mereka  itu  yang
lalu beriman kepada ajaran ini.

RUMAWI DAN KAUM MUSLIMIN
 
Akan tetapi Kerajaan Rumawi - yang karena kemenangannya kaum
Muslimin  telah  turut  gembira  dan   menganggapnya   suatu
kemenangan  bagi  agama-agama  Kitab  - penguasa-penguasanya
tidak mau bersusah payah mempelajari agama baru itu.  Mereka
memandang  semua  kemungkinan hanya dari segi politik semata
dan yang dipikirkan hanya nasib kerajaannya bila agama  yang
baru  itu  kelak mendapat kemenangan. Oleh karena itu mereka
malah bersekongkol menentangnya, dengan mengirimkan  pasukan
besar-besaran  -  suatu sumber mengatakan seratus ribu, yang
lain mengatakan duaratus ribu - yang mengakibatkan timbulnya
perang Tabuk. Pihak Rumawi ternyata mundur berhadapan dengan
pasukan Muslimin - dengan  Muhammad  sebagai  komandannya  -
yang  hendak  menangkis serangan musuh yang tidak diinginkan
itu.
 
Sejak itulah kaum Muslimin dan  kaum  Nasrani  berada  dalam
posisi   permusuhan   politik,   yang   selama  berabad-abad
berikutnya kemenangan berada di tangan kaum Muslimin. Selama
itu   lingkungan   kekuasaan  mereka  membentang  sampai  ke
Andalusia di sebelah barat, ke India dan Tiongkok di sebelah
timur.  Sebagian besar daerah-daerah ini menerima agama baru
itu dan bahasa Arab sebagai bahasa yang sudah ditentukan.
 
Setelah tiba masanya sejarah harus  beredar,  pihak  Nasrani
pun  mengusir kaum Muslimin dari Andalusia, memerangi mereka
dengan serangkaian Perang Salib. Mereka menyerang agama  dan
Nabi  dengan  cara yang sangat keji, disertai kebohongan dan
fitnah semata-mata. Demikian kejinya  mereka  itu,  sehingga
lupa  mereka  tentang  apa  yang pernah disampaikan Muhammad
'alaihissalam dalam hadis-hadis  dan  dalam  Qur'an  melalui
wahyu  yang  diturunkan  kepadanya,  bahwa  Islam mengangkat
martabat Isa 'alaihissalarn setinggi  yang  diberikan  Allah
kepadanya.

PENULIS-PENULIS KRISTEN DAN MUHAMMAD
 
Ketika menguraikan, pandangan penulis-penulis Kristen sampai
pada pertengahan  abad  kesembilanbelas,  sehubungan  dengan
adanya  mereka  yang  berprasangka  jahat  terhadap Muhammad
Dictionnaire Larousse menyebutkan demikian: "Dalam pada  itu
Muhammad  masih tetap sebagai tukang sihir yang hanyut dalam
kerusakan akhlak, perampok unta, seorang kardinal yang tidak
berhasil  menduduki  kursi Paus, lalu menciptakan agama baru
untuk membalas dendam kepada  kawan-kawannya.  Cerita-cerita
khayal  dan  cabul  banyak  terjadi  dalam sejarah hidupnya.
Sejarah hidup Bahaume (Muhammad) hampir terdiri  dari  hasil
lektur  semacam  itu. 'Cerita Muhammad' yang disiarkan oleh
Reinaud dan Francisque Michel tahun 1831  melukiskan  kepada
kita pandangan orang-orang yang hidup dalam Abad Pertengahan
itu tentang dia. Dalam  abad  ketujuhbelas  Bell  memberikan
suatu  tanggapan  tentang  sejarah yang sifatnya merendahkan
arti  Qur'an  dengan  suatu  tinjauan  berdasarkan  sejarah.
Sungguhpun begitu ia masih diliputi oleh ketentuan-ketentuan
yang salah mengenai dirinya. Akan tetapi dia mengakui, bahwa
ketentuan  moral  dan  sosial  yang  dibuatnya tidak berbeda
dengan ketentuan Kristen, kecuali soal  hukum  qishash  (Lex
Talionis?) dan polygyny."
 
Dari  sekian  banyak  Orientalis  yang telah membuat analisa
tentang sejarah hidup Muhammad,  ada  seorang  di  antaranya
yang agak jujur, yaitu penulis Perancis Emile Dermenghem. Ia
memperingatkan kolega-kolega yang menulis tentang agama  ini
dengan  mengatakan:  "Sesudah  pecah  perang  Islam-Kristen,
dengan sendirinya jurang pertentangan  dan  salah-pengertian
bertambah  lebar,  tambah tajam. Orang harus mengakui, bahwa
orang-orang Baratlah yang memulai timbulnya pertentangan itu
sampai   begitu   memuncak.   Sejak   zaman  penulis-penulis
Bizantium,  tanpa  mau  bersusah  payah   mengadakan   studi
-kecuali   Jean  Damasceme-  telah  melempari  Islam  dengan
pelbagai  macam  penghinaan.  Para   penulis   dan   penyair
menyerang  kaum  Muslimin  Andalusia dengan cara yang sangat
rendah. Mereka menuduh, bahwa Muhammad adalah perampok unta,
orang  yang hanyut dalam foya-foya, mereka menuduhnya tukang
sihir, kepala bandit dan perampok, bahkan menuduhnya sebagai
seorang  pendeta  Rumawi  yang marah dan dendam karena tidak
dipilih  menduduki  kursi  Paus  ...   Dan   yang   sebagian
mengiranya    ia    adalah    tuhan    palsu,    yang   oleh
pengikut-pengikutnya dibawakan sesajen berupa  kurban-kurban
manusia. Bahkan Guibert de Nogent sendiri, orang yang begitu
serius masih menyebutkan, bahwa Muhammad mati karena  krisis
mabuk  yang  jelas  sekali,  dan  bahwa  tubuhnya  kedapatan
terdampar  di  atas  timbunan  kotoran  binatang  dan  sudah
dimakan  babi.  Oleh  karena  itu,  lalu  ditafsirkan, bahwa
itulah  sebabnya  minuman  keras  dan  daging  binatang  itu
diharamkan.
 
Di   samping  itu  ada  beberapa  nyanyian  yang  melukiskan
Muhammad  sebagai  berhala  dari  emas,  dan   mesjid-mesjid
sebagai  kuil-kuil  kuno yang penuh dengan patung-patung dan
gambar-gambar.   Pencipta   "Nyanyian   Antakia"    (Chanson
d'Antioche)  membawa cerita tentang adanya orang yang pernah
melihat berhala "Mahom" terbuat dari emas  dan  perak  murni
dan  dia  duduk  di atas seekor gajah di tempat yang terbuat
dari lukisan mosaik. Sedang "Nyanyian  Roland"  (Chanson  de
Roland)     melukiskan     pahlawan-pahlawan     Charlemagne
menghancurkan berhala-berhala Islam, dan mengira bahwa  kaum
Muslimin  di  Andalusia  itu menyembah trinitas terdiri dari
Tervagant, Mahom dan Apollo. Dan "Cerita Muhammad" (Le Roman
de  Mahomet)  itu menganggap, bahwa Islam membenarkan wanita
melakukan polyandri.
 
"Cara  berpikir  yang  penuh  dengan  kedengkian  dan  penuh
legenda  itu  tetap  menguasai kehidupan mereka. Sejak zaman
Rudolph de Ludheim, sampai saat kita sekarang ini, masih ada
saja  orangorang  semacam  Nicolas  de Cuse, Vives, Maracci,
Hottinger, Bibliander, Prideaux dan yang  lain.  Mereka  itu
menggambarkan  Muhammad  sebagai penipu, dan Islam merupakan
sekumpulan kaum bidat. Semua  itu  adalah  perbuatan  setan.
Kaum  Muslimin  adalah orang-orang buas sedang Qur'an adalah
suatu gubahan yang tak berarti. Mereka tidak membicarakannya
secara  sungguh-sungguh,  karena  sudah  dianggap  tidak ada
artinya.  Tetapi,  dalam  pada  itu  Pierre  le   Venerable,
pengarang  pertama  yang telah menulis risalah anti Islam di
Barat dalam abad keduabelas telah menterjemahkan  Qur'an  ke
dalam  bahasa  Latin.  Dalam abad keempatbelas Peirre Pascal
termasuk orang yang mau mendalami studi-studi tentang Islam.
Innocent  III  pernah  melukiskan Muhammad, bahwa dia adalah
musuh  Kristus   (Antichrist).   Sedang   abad   Pertengahan
menganggap  Muhammad seorang heretik (melanggar ajaran agama
Kristen).  Orang-orang  semacam  Raymond  Lulle  dalam  abad
keempatbelas,   Guellaume  Postel  dalam  abad  keenambelas,
Roland dan Gagnier dalam  abad  kedelapanbelas,  Pendeta  de
Broglie  dan  Renan  dalam  abad  kesembilanbelas, mempunyai
tanggapan  yang  beraneka  ragam.   Sebaliknya   orang-orang
semacam  Comte Boulainvilliers, Scholl, Caussin de Perceval,
Dozy,  Sprenger,  Barthelemy  Saint-Hilaire,  de  Casteries,
Carlyle  dan  yang  lain, pada umumnya mereka memperlihatkan
sikap  jujur   terhadap   Islam   dan   Nabi,   dan   kadang
memperlihatkan  sikap hormat. Sungguhpun begitu, dalam tahun
1876 Droughty bicara  tentang  Muhammad  dengan  mengatakan:
"Itu Arab munafik yang kotor." Sebelum itu, dalam tahun 1822
juga Foster telah  mencacinya.  Sampai  sekarang  sebenarnya
masih ada musuh-musuh Islam itu yang bersemangat."[5]
 
Catatan kaki:
————-
[5] Emile Dermenghem, La Vie de  Mahomet,  halaman  135  dan
berikutnya.
 
Kita sudah melihat, bukan, penulis-penulis Barat itu, begitu
rendah menyerangnya? Juga sudah kita lihat kegigihan  mereka
selama berabad-abad     yang  mau menanamkan rasa permusuhan
dan kebencian di kalangan umat manusia. Padahal di  kalangan
mereka  itu  ada orang-orang yang sudah mengalami zaman yang
biasa disebut zaman ilmu pengetahuan, zaman riset dan  zaman
kebebasan   berpikir  serta  adanya  deklarasi  persaudaraan
antara sesama manusia.
 
Dengan  adanya  orang-orang  yang  jujur  dalam  batas-batas
tertentu   telah   mengurangi   juga  adanya  pengaruh  yang
menyesatkan seperti yang diisyaratkan oleh  Dermenghem  itu.
Di  antara  mereka ada yang mengakui kebenaran iman Muhammad
membawakan risalah itu  yang  dipercayakan  Allah  kepadanya
melalui  wahyu  yang harus disampaikan. Ada pula yang sangat
menghargai kebesaran Muhammad dalam arti rohani,  ketinggian
akhlaknya,  harga  dirinya serta jasanya yang tidak sedikit.
Ada yang melukiskan semua itu  dengan  gaya  yang  kuat  dan
indah  sekali.  Meskipun  demikian,  pihak  Barat masih juga
berprasangka  buruk  terhadap  Islam  dan   terhadap   Nabi,
kemudian  demikian  beraninya  mereka  itu sampai-sarnpai di
daerah-daerah Islam sendiri kalangan misionaris  melancarkan
penghinaan yang begitu rendah, dan berusaha membelokkan kaum
Muslimin dari ajaran agamanya kepada agama Kristen.



SEBAB PERMUSUHAN ISLAM-KRISTEN
 
Atas semua itu harus  kita  selidiki  sebab-sebab  timbulnya
permusuhan  sengit  dan  peperangan yang begitu dahsyat yang
telah dimulai oleh pihak Kristen terhadap Islam itu. Menurut
hemat   kita,  kurangnya  pengetahuan  pihak  Barat  tentang
hakekat Islam dan sejarah Nabi  adalah  sebab  pertama  yang
menimbulkan  permusuhan itu. Kurangnya pengetahuan ini sudah
tentu  merupakan  sebab-sebab  timbulnya  sikap   kaku   dan
fanatisma  yang  paling  berat dan rumit. Seabad demi seabad
kurangnya  pengetahuan  demikian  ini  makin  bertimbun  dan
kemudian    ia    menjelma    menjadi    patung-patung   dan
berhala-berhala dalam jiwa generasi berikutnya,  yang  untuk
menghilangkannya  tentu  memerlukan suatu kekuatan jiwa yang
besar, seperti pada mula lahirnya kekuatan Islam dulu.

KRISTEN TIDAK SESUAI DENGAN WATAK BARAT
 
Akan tetapi kita melihat ada sebab lain  di  luar  kurangnya
pengetahuan  itu  saja  yang  telah  mendorong  pihak  Barat
menjadi fanatik dan  sampai  membangkitkan  peperangan  yang
begtu  fatal,  sebentar-sebentar  dilancarkan terhadap Islam
dan kaum Muslimin. Juga tidak terlintas dalam  pikiran  kita
tentang  apa yang biasa kita rasakan adanya hubungan politik
yang  buruk  dan   ingin   menguasai   bangsa   lain   untuk
dieksploitir.  Menurut  hemat  kita itu adalah akibat -bukan
sebab- dan adanya fanatisma yang sudah begitu merasuk sampai
ke  soal ilmu dan penyelidikan-penyelidikan ilmiah. Sebabnya
ialah, menurut hemat kita, oleh karena ajaran  Kristen  yang
mengajak  orang menjauhkan kehidupan duniawi, sifat maaf dan
pengampunan serta pengertian-pengertian  hidup  rohani  yang
luhur, tidak sesuai dengan perangai Barat, yang sejak ribuan
tahun  dalam  lingkungan  agama   polytheisma,   dan   letak
geografisnya  menghendaki  perjuangan  sengit  melawan iklim
dingin, melawan kesulitan  dan  keadaan  yang  serba  sukar.
Apabila  peristiwa-peristiwa sejarah mengharuskan juga Barat
menganut agama Kristen ini, maka tidak bisa  lain  ia  harus
juga  dilibatkan  ke dalam kancah perjuangan itu dan memaksa
agama itu meninggalkan sifatnya yang lemah-lembut dan indah,
meninggalkan  keseimbangan  rohani  yang  seharusnya menjadi
mata rantai kesatuan yang telah  disempurnakan  oleh  Islam:
yakni  kesatuan  yang  membuat  harmonis  antara  rohani dan
jasmani, antara perasaan dan akal, emosi dan  rasio,  secara
individu dan universal bersama-sama berada dalam hukum alam,
yakni keduanya  sejalan  dalam  ruang  dan  waktu  yang  tak
terbatas.
 
Menurut hemat kita, inilah sumber yang menyebabkan fanatisma
Barat yang memusuhi Islam, suatu sikap yang menyebabkan kaum
Kristen  Abisinia  menjadi  jijik  melihatnya - tatkala kaum
Muslimin  mencari  perlindungan  pada  masa  mula-mula  Nabi
mengajak orang kepada agama Allah.
 
Inilah,  menurut  pendapat  saya,  sebab timbulnya ekses dan
cara yang berlebih-lebihan di  kalangan  orang-orang  Barat,
baik  dalam  beragama  maupun dalam atheisma, fanatisma yang
berlebih-lebihan serta perjuangan yang tidak mengenal  belas
kasihan  dan  tidak  mengenal  ampun.  Apabila  dari  mereka
sejarah sudah mengenal adanya orang-orang suci,  yang  dalam
hidup    mereka    mengikuti    jejak   Isa   Al-Masih   dan
pengikut-pengikutnya, juga sejarah sudah mengenal  kehidupan
bangsa-bangsa di Barat yang selalu hidup dalam pertentangan,
dalam perjuangan, peperangan-peperangan yang  dahsyat,  atas
nama  politik  atau  atas  nama  agama, dan dikenalnya pula,
bahwa paus-paus atau pembesar-penmbesar  gereja  dan  mereka
yang  memegang  kekuasaan  temporal, selalu dalam persaingan
mau saling mengalahkan. Suatu saat golongan ini yang menang,
nantinya yang lain lagi yang menang.
 
Oleh  karena  kemenangan terakhir dalam abad kesembilanbelas
itu berada di tangan kekuasaan temporal6, maka kekuasaan ini
berusaha  hendak  membasmi  kehidupan  rohani atas nama ilmu
pengetahuan. Ia mengira, bahwa dalam kehidupan umat  manusia
ilmu   itu   akan  dapat  menggantikan  iman  seperti  dalam
kehidupan rohani.  Sesudah  melalui  perjuangan  yang  cukup
lama, sekarang mereka mengetahui bahwa pendapat demikian itu
salah sekali, dan bahwa  apa  yang  mereka  tuju  itu  dalam
kenyataannya  tak  mungkin  dapat  dilaksanakan. Sekarang di
Barat terdengar jeritan disana-sini mengajak mereka  kembali
mencari  pegangan  rohani  yang sudah hilang. Mereka mencari
pegangan itu  d  dalam  maupun  diluar  teosofi.7  Sekiranya
ajaran  Kristen  itu  memang sesuai dengan naluri perjuangan
yang telah dibawa oleh  hukum  alam  sebagai  sebagian  cara
hidup  Barat,  sesudah ternyata konsepsi materialisma mereka
tidak berhasil memberikan konsumsi rohani, tentu  akan  kita
lihat  mereka  kembali  mencari  pegangan agama Kristen yang
begitu indah, agama Isa anak Mariam  -kalaupun  Tuhan  belum
akan  membimbing mereka kepada Islam- dan tidak perlu mereka
pergi berpindah  ke  India  atau  ke  tempat  lain,  mencari
pegangan  hidup  rohani,  yang oleh manusia sangat dirasakan
perlunya seperti kebutuhan  bernapas;  sebab  ini  merupakan
sebagian  kodratnya,  bahkan  merupakan  sebagian  dari jiwa
raganya.

PENJAJAHAN DAN PROPAGANDA ANTI ISLAM
 
Ternyata  imperialisma  Barat   memberikan   bantuan   dalam
meneruskan serangan yang mereka lancarkan terhadap Islam dan
terhadap Muhammad,  dan  minta  mereka  supaya  berpendirian
seperti   penduduk  Mekah  yang  menginginkan  supaya  agama
Nasrani menderita kehinaan karena  kekalahan  Heraklius  dan
Rumawi  menghadapi  Persia.  Pernah  mereka mengatakan - dan
masih banyak di antara mereka yang mengatakan - bahwa  Islam
itulah   yang   menyebabkan   mundurnya  bangsa-bangsa  yang
menganutnya dan menyebabkan mereka tunduk kepada pihak lain.
Ini   adalah   kebohongan   yang  kita  tolak  dengan  cukup
mengingatkan  kepada  mereka  yang  mengatakan  itu,   bahwa
peradaban  umumnya  dan  kekuasaan  dunia yang cukup dikenal
selama berabad-abad itu berada di tangan bangsa-bangsa  yang
yang  terdiri  dari  umat  Islam  itulah. Di sana pusat ilmu
pengetahuan  dan  tempat  sarjana-sarjana,  dari  sana  pula
datangnya  pelopor kemerdekaan, yang oleh Barat belum selang
lama ini baru dikenalnya. Apabila mungkin mundurnya beberapa
golongan   bangsa   akan   dihubungkan   dengan  agama  yang
dianutnya, maka agama itu  tentu  bukan  Islam,  Islam  yang
telah  membuat  orang-orang  pedalaman  seluruh jazirah Arab
jadi bangkit dan dapat membuat mereka menguasai dunia.
 
Akan tetapi  kemunduran  bangsa-bangsa  yang  telah  menjadi
beban   bagi   Islam   itu   sangat  disayangkan  bila  akan
dihubungkan kepada agama  yang  sebenarnya  tidak  demikian;
bukan  itu  yang dikehendaki oleh Allah dan oleh Rasul. Tapi
mereka menganggap bahwa yang demikian itulah dasar agama dan
barangsiapa yang menentang ia akan dianggap atheis.

ISLAM DAN APA YANG TERJADI DENGAN UMAT ISLAM
 
Kita tinggalkan dulu bicara tentang agama ini, dan mari kita
lihat   sejarah   orang   yang   membawanya    -    Muhammad
'alaihissalam.
 
Banyak  buku-buku  sejarah  tentang  kehidupan Nabi itu yang
telah- menambahkan hal-hal yang tak dapat diterima akal  dan
yang  memang  tidak  diperlukan  menambahkan  demikian untuk
menguatkan risalahnya itu. Dan apa yang  ditambah-tambahkan,
itulah  yang dijadikan pegangan oleh kalangan Orientalis dan
oleh mereka yang mau mendiskreditkan Islam  dan  Nabi,  juga
oleh  mereka  yang mau mengecam umat Islam; dijadikannya itu
tongkat  penunjuk  dalam  kecaman  mereka  yang  akan  cukup
memanaskan hati setiap orang yang berpikir jujur.
 
Hal semacam ini dan apa yang mereka ciptakan sendiri, itulah
yang menjadi pegangan mereka, lalu mereka mengatakan,  bahwa
mereka  menulis  itu  berdasarkan metoda ilmiah yang modern,
metoda yang  mengemukakan  peristiwa-peristiwa,  orang-orang
dan  pahlawan-pahlawan.  Lalu  diberikannya  suatu penilaian
yang  pantas  jika  dianggap  pada  tempatnya   mengeluarkan
penilaian  demikian.  Dan kalau kita baca dengan seksama apa
yang  mereka  tulis  itu  akan  kita  lihat  bahwa  hal  itu
sebenarnya  penuh  dengan  nafsu  permusuhan  dan caci-maki,
terbungkus  dalam  susunan  kata-kata  yang   tidak   kurang
indahnya,   menarik   hati   mereka   yang   sepaham  dengan
anggapannya, bahwa pembahasannya itu ilmiah, terdorong hanya
akan mencari kebenaran semata-mata, ingin meneropongnya dari
segenap penjuru. Inilah yang dituju oleh penulis-penulis dan
ahli-ahli  sejarah  yang  fanatik  itu.  Hanya  saja, adanya
beberapa orang yang masih dapat berpikir lebih tenang - baik
penulis  atau  sarjana  -menyebabkan  mereka yang berpikiran
bebas itu dapat bersikap lebih  adil  dan  jujur,  sekalipun
dari pihak Kristen sendiri.
 
Dalam  berbagai  macam  bidang  beberapa  ulama  Islam telah
tampil dan berusaha menangkis tuduhan orang-orang Barat yang
fanatik  itu.  Dan  nama  Syaikh  Muhammad  Abduh tentu yang
paling menonjol dalam bidang ini. Tetapi  mereka  ini  tidak
menempuh   metoda   yang  ilmiah  -seperti  didakwakan  oleh
penulis-penulis dan ahli-ahli  sejarah  Eropa,  sebab  hanya
merekalah  yang  memakai  cara  itu.  Maksudnya supaya dalam
menghadapi lawan alasan mereka  lebih  kuat.  Kemudian  lagi
ulama  Islam itu - dan Syaikh Muhammad Abduh yang terutama -
telah dituduh atheis dan kufur. Maka argumentasi mereka  itu
menjadi makin lemah di depan lawan Islam.

SIKAP JUMUD DI KALANGAN PEMUDA
 
Tuduhan  mereka  itu sebenarnya memberi pengaruh besar dalam
jiwa  angkatan  muda  Islam  yang  terpelajar.  Terkesan  di
kalangan  pemuda  itu,  bahwa  atheisma  dan  logika sejalan
dengan  ijtihad  (aktif),  sedang  iman  sama  dengan  Jumud
(pasif).  Oleh  karena itu jiwa mereka gelisah. Mereka pergi
membaca buku-buku Barat;  dengan  itu  mereka  akan  mencari
kebenaran,  dengan  keyakinan bahwa mereka tidak mendapatkan
yang demikian itu  dalam  buku-buku  kaum  Muslimin.  Dengan
sendirinya  buku-buku  agama  dan sejarah Kristen tidak juga
terpikirkan  oleh  mereka;  mereka  sudah  hanyut  ke  dalam
buku-buku  filsafat,  yang  dengan  gayanya  yang ilmiah itu
mereka mencari setitik  air  yang  akan  menghilangkan  rasa
dahaga  akan  kebenaran  yang ada dalam jiwa mereka itu, dan
dengan logika yang dikemukakannya sudah merupakan nyala suci
yang   masih   tersembunyi   dalam  jiwa  umat  manusia  dan
dijadikannya pula alat  komunikasi  yang  akan  mengantarkan
mereka  kepada  alam  serta  kebenaran yang tertinggi. Dalam
buku-buku Barat, baik dalam filsafat, etika atau  humanities
pada  umumnya  banyak  sekali yang akan mereka dapati dengan
sangat menarik hati, baik karena gayanya  yang  indah,  atau
karena  logikanya  yang kuat serta apa yang tampaknya hendak
memperlihatkan adanya kemauan  baik  dan  niat  yang  ikhlas
hendak  mencapai pengetahuan demi kebenaran. Oleh karena itu
jiwa pemuda-pemuda itu  jadi  jauh  dari  pemikiran  tentang
agama-agama   semua   dan   tentang   risalah   Islam  serta
pembawanya.
 
Sikap mereka  itu  guna  menghindarkan  diri  jangan  sampai
timbul  konflik antara mereka dengan kebekuan beragama sebab
mereka yakin takkan dapat mengalahkannya, juga karena mereka
tidak   menyadari,  betapa  pentingnya  hubungan  yang  akan
mengangkat martabat manusia ke tingkat yang lebih  sempurna,
sehingga kekuatan moralnyapun akan berlipat-ganda.

SEBAB PERMUSUHAN ISLAM-KRISTEN

Atas semua itu harus kita selidiki sebab-sebab timbulnya
permusuhan sengit dan peperangan yang begitu dahsyat yang
telah dimulai oleh pihak Kristen terhadap Islam itu. Menurut
hemat kita, kurangnya pengetahuan pihak Barat tentang
hakekat Islam dan sejarah Nabi adalah sebab pertama yang
menimbulkan permusuhan itu. Kurangnya pengetahuan ini sudah
tentu merupakan sebab-sebab timbulnya sikap kaku dan
fanatisma yang paling berat dan rumit. Seabad demi seabad
kurangnya pengetahuan demikian ini makin bertimbun dan
kemudian ia menjelma menjadi patung-patung dan
berhala-berhala dalam jiwa generasi berikutnya, yang untuk
menghilangkannya tentu memerlukan suatu kekuatan jiwa yang
besar, seperti pada mula lahirnya kekuatan Islam dulu.

KRISTEN TIDAK SESUAI DENGAN WATAK BARAT

Akan tetapi kita melihat ada sebab lain di luar kurangnya
pengetahuan itu saja yang telah mendorong pihak Barat
menjadi fanatik dan sampai membangkitkan peperangan yang
begtu fatal, sebentar-sebentar dilancarkan terhadap Islam
dan kaum Muslimin. Juga tidak terlintas dalam pikiran kita
tentang apa yang biasa kita rasakan adanya hubungan politik
yang buruk dan ingin menguasai bangsa lain untuk
dieksploitir. Menurut hemat kita itu adalah akibat -bukan
sebab- dan adanya fanatisma yang sudah begitu merasuk sampai
ke soal ilmu dan penyelidikan-penyelidikan ilmiah. Sebabnya
ialah, menurut hemat kita, oleh karena ajaran Kristen yang
mengajak orang menjauhkan kehidupan duniawi, sifat maaf dan
pengampunan serta pengertian-pengertian hidup rohani yang
luhur, tidak sesuai dengan perangai Barat, yang sejak ribuan
tahun dalam lingkungan agama polytheisma, dan letak
geografisnya menghendaki perjuangan sengit melawan iklim
dingin, melawan kesulitan dan keadaan yang serba sukar.
Apabila peristiwa-peristiwa sejarah mengharuskan juga Barat
menganut agama Kristen ini, maka tidak bisa lain ia harus
juga dilibatkan ke dalam kancah perjuangan itu dan memaksa
agama itu meninggalkan sifatnya yang lemah-lembut dan indah,
meninggalkan keseimbangan rohani yang seharusnya menjadi
mata rantai kesatuan yang telah disempurnakan oleh Islam:
yakni kesatuan yang membuat harmonis antara rohani dan
jasmani, antara perasaan dan akal, emosi dan rasio, secara
individu dan universal bersama-sama berada dalam hukum alam,
yakni keduanya sejalan dalam ruang dan waktu yang tak
terbatas.

Menurut hemat kita, inilah sumber yang menyebabkan fanatisma
Barat yang memusuhi Islam, suatu sikap yang menyebabkan kaum
Kristen Abisinia menjadi jijik melihatnya – tatkala kaum
Muslimin mencari perlindungan pada masa mula-mula Nabi
mengajak orang kepada agama Allah.

Inilah, menurut pendapat saya, sebab timbulnya ekses dan
cara yang berlebih-lebihan di kalangan orang-orang Barat,
baik dalam beragama maupun dalam atheisma, fanatisma yang
berlebih-lebihan serta perjuangan yang tidak mengenal belas
kasihan dan tidak mengenal ampun. Apabila dari mereka
sejarah sudah mengenal adanya orang-orang suci, yang dalam
hidup mereka mengikuti jejak Isa Al-Masih dan
pengikut-pengikutnya, juga sejarah sudah mengenal kehidupan
bangsa-bangsa di Barat yang selalu hidup dalam pertentangan,
dalam perjuangan, peperangan-peperangan yang dahsyat, atas
nama politik atau atas nama agama, dan dikenalnya pula,
bahwa paus-paus atau pembesar-penmbesar gereja dan mereka
yang memegang kekuasaan temporal, selalu dalam persaingan
mau saling mengalahkan. Suatu saat golongan ini yang menang,
nantinya yang lain lagi yang menang.

Oleh karena kemenangan terakhir dalam abad kesembilanbelas
itu berada di tangan kekuasaan temporal6, maka kekuasaan ini
berusaha hendak membasmi kehidupan rohani atas nama ilmu
pengetahuan. Ia mengira, bahwa dalam kehidupan umat manusia
ilmu itu akan dapat menggantikan iman seperti dalam
kehidupan rohani. Sesudah melalui perjuangan yang cukup
lama, sekarang mereka mengetahui bahwa pendapat demikian itu
salah sekali, dan bahwa apa yang mereka tuju itu dalam
kenyataannya tak mungkin dapat dilaksanakan. Sekarang di
Barat terdengar jeritan disana-sini mengajak mereka kembali
mencari pegangan rohani yang sudah hilang. Mereka mencari
pegangan itu d dalam maupun diluar teosofi.7 Sekiranya
ajaran Kristen itu memang sesuai dengan naluri perjuangan
yang telah dibawa oleh hukum alam sebagai sebagian cara
hidup Barat, sesudah ternyata konsepsi materialisma mereka
tidak berhasil memberikan konsumsi rohani, tentu akan kita
lihat mereka kembali mencari pegangan agama Kristen yang
begitu indah, agama Isa anak Mariam -kalaupun Tuhan belum
akan membimbing mereka kepada Islam- dan tidak perlu mereka
pergi berpindah ke India atau ke tempat lain, mencari
pegangan hidup rohani, yang oleh manusia sangat dirasakan
perlunya seperti kebutuhan bernapas; sebab ini merupakan
sebagian kodratnya, bahkan merupakan sebagian dari jiwa
raganya.

PENJAJAHAN DAN PROPAGANDA ANTI ISLAM

Ternyata imperialisma Barat memberikan bantuan dalam
meneruskan serangan yang mereka lancarkan terhadap Islam dan
terhadap Muhammad, dan minta mereka supaya berpendirian
seperti penduduk Mekah yang menginginkan supaya agama
Nasrani menderita kehinaan karena kekalahan Heraklius dan
Rumawi menghadapi Persia. Pernah mereka mengatakan – dan
masih banyak di antara mereka yang mengatakan – bahwa Islam
itulah yang menyebabkan mundurnya bangsa-bangsa yang
menganutnya dan menyebabkan mereka tunduk kepada pihak lain.
Ini adalah kebohongan yang kita tolak dengan cukup
mengingatkan kepada mereka yang mengatakan itu, bahwa
peradaban umumnya dan kekuasaan dunia yang cukup dikenal
selama berabad-abad itu berada di tangan bangsa-bangsa yang
yang terdiri dari umat Islam itulah. Di sana pusat ilmu
pengetahuan dan tempat sarjana-sarjana, dari sana pula
datangnya pelopor kemerdekaan, yang oleh Barat belum selang
lama ini baru dikenalnya. Apabila mungkin mundurnya beberapa
golongan bangsa akan dihubungkan dengan agama yang
dianutnya, maka agama itu tentu bukan Islam, Islam yang
telah membuat orang-orang pedalaman seluruh jazirah Arab
jadi bangkit dan dapat membuat mereka menguasai dunia.

Akan tetapi kemunduran bangsa-bangsa yang telah menjadi
beban bagi Islam itu sangat disayangkan bila akan
dihubungkan kepada agama yang sebenarnya tidak demikian;
bukan itu yang dikehendaki oleh Allah dan oleh Rasul. Tapi
mereka menganggap bahwa yang demikian itulah dasar agama dan
barangsiapa yang menentang ia akan dianggap atheis.

ISLAM DAN APA YANG TERJADI DENGAN UMAT ISLAM

Kita tinggalkan dulu bicara tentang agama ini, dan mari kita
lihat sejarah orang yang membawanya – Muhammad
‘alaihissalam.

Banyak buku-buku sejarah tentang kehidupan Nabi itu yang
telah- menambahkan hal-hal yang tak dapat diterima akal dan
yang memang tidak diperlukan menambahkan demikian untuk
menguatkan risalahnya itu. Dan apa yang ditambah-tambahkan,
itulah yang dijadikan pegangan oleh kalangan Orientalis dan
oleh mereka yang mau mendiskreditkan Islam dan Nabi, juga
oleh mereka yang mau mengecam umat Islam; dijadikannya itu
tongkat penunjuk dalam kecaman mereka yang akan cukup
memanaskan hati setiap orang yang berpikir jujur.

Hal semacam ini dan apa yang mereka ciptakan sendiri, itulah
yang menjadi pegangan mereka, lalu mereka mengatakan, bahwa
mereka menulis itu berdasarkan metoda ilmiah yang modern,
metoda yang mengemukakan peristiwa-peristiwa, orang-orang
dan pahlawan-pahlawan. Lalu diberikannya suatu penilaian
yang pantas jika dianggap pada tempatnya mengeluarkan
penilaian demikian. Dan kalau kita baca dengan seksama apa
yang mereka tulis itu akan kita lihat bahwa hal itu
sebenarnya penuh dengan nafsu permusuhan dan caci-maki,
terbungkus dalam susunan kata-kata yang tidak kurang
indahnya, menarik hati mereka yang sepaham dengan
anggapannya, bahwa pembahasannya itu ilmiah, terdorong hanya
akan mencari kebenaran semata-mata, ingin meneropongnya dari
segenap penjuru. Inilah yang dituju oleh penulis-penulis dan
ahli-ahli sejarah yang fanatik itu. Hanya saja, adanya
beberapa orang yang masih dapat berpikir lebih tenang – baik
penulis atau sarjana -menyebabkan mereka yang berpikiran
bebas itu dapat bersikap lebih adil dan jujur, sekalipun
dari pihak Kristen sendiri.

Dalam berbagai macam bidang beberapa ulama Islam telah
tampil dan berusaha menangkis tuduhan orang-orang Barat yang
fanatik itu. Dan nama Syaikh Muhammad Abduh tentu yang
paling menonjol dalam bidang ini. Tetapi mereka ini tidak
menempuh metoda yang ilmiah -seperti didakwakan oleh
penulis-penulis dan ahli-ahli sejarah Eropa, sebab hanya
merekalah yang memakai cara itu. Maksudnya supaya dalam
menghadapi lawan alasan mereka lebih kuat. Kemudian lagi
ulama Islam itu – dan Syaikh Muhammad Abduh yang terutama -
telah dituduh atheis dan kufur. Maka argumentasi mereka itu
menjadi makin lemah di depan lawan Islam.

SIKAP JUMUD DI KALANGAN PEMUDA

Tuduhan mereka itu sebenarnya memberi pengaruh besar dalam
jiwa angkatan muda Islam yang terpelajar. Terkesan di
kalangan pemuda itu, bahwa atheisma dan logika sejalan
dengan ijtihad (aktif), sedang iman sama dengan Jumud
(pasif). Oleh karena itu jiwa mereka gelisah. Mereka pergi
membaca buku-buku Barat; dengan itu mereka akan mencari
kebenaran, dengan keyakinan bahwa mereka tidak mendapatkan
yang demikian itu dalam buku-buku kaum Muslimin. Dengan
sendirinya buku-buku agama dan sejarah Kristen tidak juga
terpikirkan oleh mereka; mereka sudah hanyut ke dalam
buku-buku filsafat, yang dengan gayanya yang ilmiah itu
mereka mencari setitik air yang akan menghilangkan rasa
dahaga akan kebenaran yang ada dalam jiwa mereka itu, dan
dengan logika yang dikemukakannya sudah merupakan nyala suci
yang masih tersembunyi dalam jiwa umat manusia dan
dijadikannya pula alat komunikasi yang akan mengantarkan
mereka kepada alam serta kebenaran yang tertinggi. Dalam
buku-buku Barat, baik dalam filsafat, etika atau humanities
pada umumnya banyak sekali yang akan mereka dapati dengan
sangat menarik hati, baik karena gayanya yang indah, atau
karena logikanya yang kuat serta apa yang tampaknya hendak
memperlihatkan adanya kemauan baik dan niat yang ikhlas
hendak mencapai pengetahuan demi kebenaran. Oleh karena itu
jiwa pemuda-pemuda itu jadi jauh dari pemikiran tentang
agama-agama semua dan tentang risalah Islam serta
pembawanya.

Sikap mereka itu guna menghindarkan diri jangan sampai
timbul konflik antara mereka dengan kebekuan beragama sebab
mereka yakin takkan dapat mengalahkannya, juga karena mereka
tidak menyadari, betapa pentingnya hubungan yang akan
mengangkat martabat manusia ke tingkat yang lebih sempurna,
sehingga kekuatan moralnyapun akan berlipat-ganda.

cerita rakyat berbahasa inggris

Malin Kundang

Once upon a time, on the north coast of Sumatra lived a poor woman and his son. The boy was called Malin Kundang. They didn’t earn much as fishing was their only source of income. Malin Kundang grew up as a skillful young boy. He always helps his mother to earn some money. However, as they were only fisherman’s helper, they still lived in poverty. “Mother, what if I sail overseas?” asked Malin Kundang one day to his mother. Her mother didn’t agree but Malin Kundang had made up his mind. “Mother, if I stay here, I’ll always be a poor man. I want to be a successful person,” urged Malin kundang. His mother wiped her tears, “If you really want to go, I can’t stop you. I could only pray to God for you to gain success in life,” said his mother wisely. “But, promise me, you’ll come home.”

In the next morning, Malin Kundang was ready to go. Three days ago, he met one of the successful ship’s crew. Malin was offered to join him. “Take a good care of yourself, son,” said Malin Kundang’s mother as she gave him some food supplies. “Yes, Mother,” Malin Kundang said. “You too have to take a good care of yourself. I’ll keep in touch with you,” he continued before kissing his mother’s hand. Before Malin stepped onto the ship, Malin’s mother hugged him tight as if she didn’t want to let him go.

It had been three months since Malin Kundang left his mother. As his mother had predicted before, he hadn’t contacted her yet. Every morning, she stood on the pier. She wished to see the ship that brought Malin kundang home. Every day and night, she prayed to the God for her son’s safety. There was so much prayer that had been said due to her deep love for Malin Kundang. Even though it’s been a year she had not heard any news from Malin Kundang, she kept waiting and praying for him.

After several years waiting without any news, Malin Kundang’s mother was suddenly surprised by the arrival of a big ship in the pier where she usually stood to wait for her son. When the ship finally pulled over, Malin Kundang’s mother saw a man who looked wealthy stepping down a ladder along with a beautiful woman. She could not be wrong. Her blurry eyes still easily recognized him. The man was Malin Kundang, her son.

Malin Kundang’s mother quickly went to see her beloved son. “Malin, you’re back, son!” said Malin Kundang’s mother and without hesitation, she came running to hug Malin Kundang, “I miss you so much.” But, Malin Kundang didn’t show any respond. He was ashamed to admit his own mother in front of his beautiful wife. “You’re not my Mother. I don’t know you. My mother would never wear such ragged and ugly clothes,” said Malin Kundang as he release his mother embrace.

Malin Kundang’s mother take a step back, “Malin…You don’t recognize me? I’m your mother!” she said sadly. Malin Kundang’s face was as cold as ice. “Guard, take this old women out of here,” Malin Kundang ordered his bodyguard. “Give her some money so she won’t disturb me again!” Malin Kundang’s mother cried as she was dragged by the bodyguard, ”Malin… my son. Why do you treat your own mother like this?”

Malin Kundang ignored his mother and ordered the ship crews to set sail. Malin Kundang’s mother sat alone in the pier. Her heart was so hurt, she cried and cried. “Dear God, if he isn’t my son, please let him have a save journey. But if he is, I cursed him to become a stone,” she prayed to the God.

In the quiet sea, suddenly the wind blew so hard and a thunderstorm came. Malin Kundang’s huge ship was wrecked. He was thrown by the wave out of his ship, and fell on a small island. Suddenly, his whole body turned into stone. He was punished for not admitting his own mother.***

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.